Friday, February 25, 2011

Arti Wirausaha Sosial

Menjadi wirausaha atau bisnismen merupakan harapan semua orang karna selalu beranggapan orang sukses dan orang kaya. Orang kaya selalu mengaji karyawan atau pegawai . tapi bagaimana tentang Wirausaha Sosial ini sebagian sumber yang menginpirasi tentang wirausaha. Ya, wirausahawan sosial memang makhluk baru di Indonesia. Ketika Kompas diundang oleh British Council untuk melihat lembaga-lembaga terkait kewirausahawan sosial di Inggris, yang muncul di benak hanyalah perusahaan dan yayasan. Perusahaan adalah entitas bisnis yang berusaha memaksimalkan keuntungan, sedangkan yayasan bergerak lebih banyak usaha sosial tetapi tak boleh mengejar keuntungan. Di antara perusahaan dan yayasan ada wirausaha sosial.

Sebenarnya wirausaha sosial (social enterprise) sudah muncul di dalam buku-buku teks kuliah pada tahun 1960-an sampai 1970-an. Baru kemudian pada 1980-an hingga 1990-an wirausaha sosial menyebar dan berkembang. Di Inggris, salah satu penggerak waktu itu adalah Bill Drayton, yang mendirikan wirausaha sosial bernama Ashoka. “Kami mendefinisikan wirausaha sosial sebagai entitas bisnis yang tujuan utamanya bersifat sosial. Keuntungan yang didapat dari usahanya dinvestasikan kembali untuk mencapai tujuan sosial itu atau untuk kepentingan sosial.
Kewirausahaan sosial lebih dari sekadar didorong oleh keinginan untuk memaksimalkan profit bagi pemegang saham atau pemilik,” kata Manajer Promosi Wirausaha Sosial dan Kebudayaan Kantor Kementerian Urusan Sektor Ketiga Tamsyn Roberts.
Dengan definisi seperti itu, sebenarnya di Indonesia sudah terdapat wirausaha sosial, seperti Bina Swadaya. Lembaga ini mencari keuntungan melalui beberapa unit bisnisnya, tetapi keuntungan itu diinvestasikan kembali untuk membantu masyarakat kecil dan juga petani. Ada juga beberapa lembaga dengan cara mengajukan berbagai proyek ke perusahaan-perusahaan untuk mengerjakan sejumlah proyek yang bersifat sosial, seperti pendidikan dan perbaikan lingkungan.
Lembaga ini mengambil keuntungan dari proyek-proyek yang dikerjakan, tetapi keuntungan itu untuk diinvestasikan kembali bagi tujuan sosialnya. Namun berbeda dengan Indonesia, di Inggris lembaga-lembaga wirausaha sosial itu mendapat pengakuan pemerintah. Di samping perusahaan dan yayasan, Pemerintah Inggris mengakui keberadaan wirausaha sosial itu. Bahkan, pengakuan itu diwujudkan dalam bentuk keberadaan Kementerian Urusan Sektor Ketiga yang di dalamnya mengurus wirausaha sosial. Penyebutan sektor ketiga untuk memperlihatkan keberadaan lembaga yang berada di antara pemerintah dan swasta.
Wirausahawan sosial yang mendapat dana kemudian mengerjakan proyek yang sudah tentu harus bermanfaat bagi masyarakat, seperti penciptaan lapangan pekerjaan, pengurangan jumlah warga yang tidak memiliki rumah, dan perbaikan lingkungan. Pemerintah kemudian akan mengaudit dana-dana yang disalurkan itu. Pemerintah mengecek manfaat yang diterima oleh masyarakat yang menjadi subyek dalam proyek-proyek itu. Yang mungkin menjadi pertanyaan adalah, bagaimana dengan pengelolaan karyawan di lembaga wirausaha sosial.
Apakah karena bertujuan sosial, kemudian mereka bisa digaji seadanya? “Kami juga digaji layak. Kami digaji dengan patokan gaji untuk mereka yang bekerja di pelayanan publik. Kalau kami menjabat sebagai manajer, gajinya akan distandarkan dengan gaji manajer untuk lembaga pelayanan publik. Hal yang sama kalau kami menjabat sebagai direktur,” kata Direktur Komunikasi dan Kebijakan School for Social Enterprise Nick Temple berkisah tentang gaji yang didapat di dalam lembaganya. Di Indonesia sebenarnya sudah lama lembaga-lembaga wirausaha sosial bermunculan. Sama dengan di beberapa negara di Asia pengakuan tentang lembaga itu belum ada.
Pemerintah masih melihat hanya perusahaan dan yayasan sesuai dengan hukum yang ada. Meskipun demikian, wirausahawan sosial telah melangkah.
http://www.perindagtangerangkab.org , kompas.com

Thursday, February 24, 2011

Anyaman Topi Bambu

Sangat langka dan unit untuk kerajinan yang dibuat dari bambu / bambo….yang saat ini sangat langka dan ampir punah. Bahkan dari jaman dulu dan sekarang untuk membuat atap rumah atau penyangga genteng pun dari bambu. sangat banyak kekayaaan alam di indonesia khususnya bambu yang dapat menghasilkan uang. Namun apakah sudah ada para investor atau pemerintah yang tertarik dan ingin melaksanakan budidaya anyaman dari bambu khususnya topi . Sejarah  tangerang adalah pengrajin anyaman topi bambu. Nah ini model dan type topi bambu yang dari berbagai sumber yang tidak dapat disebutkan di sini  semuanya penulis ucapkan terimakasih atas informasinya semoga bermanfaat .

Model A

Model B

Model C

Model D

Model E

Wednesday, February 23, 2011

Tudung Belenong, Topi Bambu dari Kabupaten Tangerang


pengrajin tudung belenong desa cijantraPada tahun 1800-an sampai awal 1900-an Kabupaten Tangerang dikenal sebagai pusat kerajinan topi bambu. Topi bambu dari Tangerang ini diekspor ke Amerika dan Eropa. Bahkan, topi bambu Tangerang dikabarkan pernah merajai Paris.
Dalam rangka mencari kembali pusat-pusat produksi topi bambu yang pada zaman itu berada di daerah Cikupa, Tigaraksa dan Balaraja, TopiBambu menemukan sebuah kampung yang masih memiliki sisa-sisa penganyam topi bambu. Kampung itu adalah Kampung Ciakar yang terletak di Desa Ciakar, Kecamatan Panongan. TopiBambu mendata setidaknya masih ada sekitar 20 orang pengrajin topi bambu di Kampung Ciakar.
Ada pun jenis topi bambu yang dianyam oleh pengrajin di Kampung Ciakar adalah topi bambu jenis tudung belenong, capio dan peradah. Tudung belenong adalah sejenis topi bambu yang bentuknya menyerupai belenong sehingga disebut dengan tudung belenong. Capio adalah topi bambu seperti topi pramuka. Sedangkan peradah adalah topi bambu untuk hiasan dinding. Peradah biasanya terdiri dari 5 atau 7 topi bambu dari ukuran kecil sampai besar.
Karena belum memiliki contoh gambar tudung belenong dari pengrajin di Kampung Ciakar maka TopiBambu melakukan riset di internet dan menemukan sebuah sentra kerajinan tudung belenong lain di Kabupaten Tangerang, yaitu di Kampung Carangpulang, Desa Cijantra, Kecamatan Pagedangan. Informasi mengenai pengrajin tudung belenong di Kampung Carangpulang tersebut dapat dibaca di situs web Pagedangan Kampung Kita. TopiBambu menggunakan gambar pengrajin tudung belenong dari halaman tersebut untuk ilustrasi kiriman ini.
Pada saat ini TopiBambu sedang mendata para pengrajin topi bambu. Mudah-mudahan usaha ini dapat segera terealisasi.

Saturday, February 19, 2011

Topi Bambu Tangerang Berkualitas Sangat Baik


Pengrajin-Topi-Bambu-08Topi bambu Tangerang pernah merajai Paris. Ya, topi bambu tangerang pada zaman Hindia Belanda merupakan produk unggulan Tangerang yang sudah diekspor ke Amerika dan Eropa (terutama Perancis) melalui Pelabuhan Tanjung Priok. Topi bambu produksi Tangerang merajai pasaran karena kualitasnya yang sangat baik. Pada saat itu, topi bambu dianyam oleh penduduk asli dan diperdagangkan oleh orang-orang Tionghoa. Ekspor ke luar negeri sendiri dilakukan oleh pedagang Eropa.
Kejayaan topi Tangerang baru berakhir sekitar tahun 1930 dan hingga kini tak mampu bangkit kembali. Kemunduran tersebut diawali  dengan merosotnya ekspor akibat adanya perubahan mode yang diminati pasar dunia dan saingan mode topi dari pengrajin di Amerika Selatan. Selain itu karena adanya krisis ekonomi tahun 1930 dimana menghantam ekspor-impor dunia. Bahkan akibat krisis tersebut perusahaan tenun di Balaraja “gulung tikar” (Ekajati, 2004: 120 dan Brousson, 2007: 72-74).

Berikut tabel ekspor topi bambu Tangerang pada tahun 1913 sampai 1931 untuk melihat nilai ekonomi ekspor topi bambu pada saat itu.
Tahun Jumlah Nilai Total Nilai Tiap Topi
1913 5.495.394 f     1.328.820 26 sen
1917 2.573.033 f       668.983 26 sen
1922 2.826.058 f       847.817 30 sen
1928 4.947.104 f     2.044.889 41 sen
1929 4.436.568 f     1.009.878 23 sen
1930 2.935.745 f       445.165 16 sen
1931 1.163.307 f       147.529 13 sen
Sumber: Indonesia. Arsip Nasional, 1980 : cxv dalam Ekajati, 2004: 120
Berdasarkan hal tersebut di atas, tidak heran apabila topi bambu Tangerang pernah merajai paris.
Kita bukan akan bernostalgia. Akan tetapi, apabila kerajinan topi bambu dan juga pandan di Tangerang dapat dihidupkan kembali tentu hal tersebut akan memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat Kabupaten Tangerang.
Keterangan: Tulisan ini diolah ulang dari Wikimu

Friday, February 18, 2011

Thursday, February 17, 2011

Topi Bambu Tangerang Pernah Merajai Paris

Berikut adalah sebuah artikel yang dimuat di Kompas.com mengenai topi bambu Tangerang yang pernah merajai Paris.


Topi Bambu Tangerang Pernah Merajai Paris

Jumat, 22 Agustus 2008 | 08:30 WIB

JAKARTA, JUMAT – Industri kecil turut tumbuh di sepanjang Jalan Raya Pos tempo doeloe. Salah satunya adalah industri topi bambu dan pandan buatan Tangerang yang merajai dunia serta menjadi mode di Paris, Perancis!

Pramoedya Ananta Toer dalam Jalan Pos Jalan Daendels mencatat tentang produk topi bambo dan pandan Tangerang sangat digemari di Eropa untuk semua kalangan. Nyona dan nona cantik di Prancis pada awal abad 20 keranjingan mengenakan topi Tangerang. Para kerani di terusan Panama pun banyak yang mengenakan topi buatan Tangerang itu. Jutaan topi Tangerang diekspor ke Eropa setiap tahun pada masa jayanya!


Catatan serupa juga ditulis oleh wartawan Tionghoa Peranakan Oey Hok Tjay yang asli Tangerang. Menurut Hok Tjay, topi bambu atau pandan buatan Tangerang ini dikerjakan para wanita yang sangat digemari di Asia Tenggara hingga Eropa.

Pembuatan topi berpusat di beberapa desa seperti Balaraja, Cikupa, Tigaraksa, Tenjo dan lain-lain. Pembelian topi dilakukan para tengkulak yang b erkeliling desa. Selanjutnya topi dikirim ke pabrik-pabrik topi di Tangerang untuk mendapat sentuhan akhir lalu dipak sebelum dikirim ke luar negeri, kata Hok Tjay.
Pada jaman Hindia Belanda, ujar Hok Tjay, bisnis topi bambu dan pandan dilakukan oleh orang Betawi, Sunda dan Tionghoa. Barulah belakangan ada tiga perusahaan milik bangsa Eropa yang terlibat bisnis topi yang dibuat secara mekanis setelah listrik masuk ke wilayah Tangerang.

Sayang, kini nyaris tidak terdengar atau pun tersisa topi Tangerang yang bersejarah itu. Sejatinya industri topi pandan dan bambu Tangerang adalah sebuah usaha kecil dan menengah yang tumbuh alami di jaman pra-kemerdekaan. Industri sempat hancur karena ada kerusuhan anti-Tionghoa akibat provokasi NICA di masa revolusi fisik seperti dicatat Pramoedya Ananta Toer dalam Hoakiau di Indonesia.

Kini industri yang tumbuh di Tangerang adalah pabrik-pabrik besar dengan polusi. Masyarakat setempat hidup pas-pasan, itu pun untuk mencari kerja, mereka harus membayar kepada para oknum penguasa setempat yang mengaku sebagai jawara . Industri topi bambu dan pandan Tangerang pun tinggal kenangan.
Padahal potensi untuk menghidupkan produk eksotis itu masih ada, Paul Verhoeven yang aktif di Museum Koninlijke Netherlands Indie Leger (KNIL), Broonbeek, Arnhem, Kerajaan Belanda mengaku belum berhasil mencari perajin yang mampu membuat topi pandan atau topi bambu yang digunakan serdadu KNIL tempoe doeloe. Lagipula produk tersebut sangat ramah lingkungan dan memberdayakan masyarakat kecil.

Iwan Santosa
Sumber: Kompas.com

Monday, February 14, 2011

Pendiri dan Pengurus TopiBambu

Ide pendirian TopiBambu dimotori oleh Moh Arif Widarto yang ingin membangun sebuah wadah silaturahim daring bagi warga Kabupaten Tangerang yang sekaligus juga dapat dipergunakan sebagai media pemberdayaan masyarakat Kabupaten Tangerang. Ide kemudian digulirkan kepada beberapa pihak. Setelah melalui berbagai rangkaian diskusi intensif maka Andi Sakab, Agus Hasanudin, Rizki Nugroho Destrian dan M Ramy Dhia Humam pun setuju dengan Moh Arif Widarto untuk mendirikan TopiBambu. Dengan demikian, kelima orang tersebut secara otomatis menjadi pendiri TopiBambu.
Pendiri
  1. Agus Hasanudin
  2. Andi Sakab
  3. Moh Arif Widarto
  4. Muhammad Ramy Dhia Humam
  5. Rizki Nugroho Destrian
Pengurus
  • Direktur Eksekutif: Moh Arif Widarto
  • Direktur Program: Andi Sakab
  • Direktur Pemasaran dan Komunikasi: Agus Hasanudin
  • Direktur Keuangan: Rizki Nugroho Destrian
  • Direktur Kreatif: M Ramy Dhia Humam

Wednesday, February 9, 2011

Mending kerja keras atau kerja cerdas??

Mending kerja keras atau kerja cerdas??
Ini artikel sangat menarikdan akhirnya saya repost , mudah mudahan bermanfaat
Masih ingat semboyan yang sempat membahana di lingkungan kerja kita PT PLN (Persero) berbunyi “KERJA KERAS, KERJA CERDAS dan KERJA IKHLAS?. Kita disegarkan kembali dengan sebuah tulisan yang mengingatkan kita bahwa ternyata kerja pun tidak hanya sembarang kerja, bahwa hanya sekedar kerja itu walaupun pakai kalimat keras masih belum cukup. Silakan disimak.

Semua pekerja yang sedang merintis karier tentunya ingin meraih kesuksesan. Untuk mencapai kata sukses, ternyata tidak cukup dengan bekerja keras saja. Anda pun bisa memilih untuk bekerja cerdas.
Menjadi sebuah konsekuensi logis, bahwa untuk rneraih kesuksesan Anda memang dituntut bekerja keras. Itu adalah salah satu nilai lebih yang bakal dilihat oleh perusahaan tempat Anda rnembangun karier. Akan tetapi kerja keras hanya sebuah syarat “cukup” untuk berkarir. Bila anda tidak bisa mengaturnya dengan baik, hal itu justru bakal mendorong anda menjadi lupa waktu dan terperangkap dalam rutinitas tugas yang tidak bisa dinikmati lagi.
Menjadi hard worker identik dengan berada lebih lama di kantor sejatinya sudah dianggap tidak lagi efisien. Bahkan, hal ini meniadi aktivitas yang mernboroskan. penambahan jam kerja bisa membuat Anda dinilai tidak memiliki manajemen kerja yang baik sehingga tidak bisa menyelesaikan pekerjaan dengan cepat sesuai jam kerja.
Tidak salah kiranya dengan kondisi itu, para pekerja keras sering mengeluh bahwa kerja keras dan pengorbanan terkadang tidak sepadan dengan hasil yang mereka dapatkan. Akan lebih membuat kesal, jika banyak orang yang menurut Anda bekerja lebih santai malah punya karier yang jauh lebih baik dari apa yang Anda miliki.
Menurut Margaret Steen, seorang ahli karier, jika kerja keras tidak sesuai dengan yang didapatkan, maka berhentilah menjadi hardworker. Itu bukan berarti Anda bermalas-malasan, atau tidak mengerjakan tugas dan tanggungjavvab dengan baik sebagai seorang karyawan. Berhenti meniadi hardworker berarti  waktunya anda mengubah pola dan mekanisme kerja.

Steen menawarkan cara kerja yang disebutnya sebagai bekerja dengan cara yang cerdas atau smart work. Inti dari bekerja dengan cerdas, yaitu pembagian atau manajemen waktu, melakukan pekerjaan dengan lebih efektif dan efisien. Jangan takut untuk melakukan terobosan-terobosan saat menjalankan kewajiban Anda bekerja.
Cara yang dilakukan, mulailah memusatkan perhatian pada pekerjaan. Kurangi hal-hal yang bisa mengalihkan perhatian seperti bergosip, membuka situs jejaring sosial, dan sebagainya.
Sebenarnya, hal-hal yang sejatinya sepele itu membuat Anda lebih lama berada di kantor. Dengan fokus pada pekerjaan, semuanya bisa diselesaikan dengan Iebih cepat. Hal-hal yang tidak penting, bisa Anda lakukan setelah selesai jam kerja atau ketika pekerjaan tuntas.Jangan pemah menunda pekerjaan. Sikap tersebut sangat penting, tapi sering diabaikan oleh kita. Sebab, sudah merasa ahli atau berpengalaman dalam bidang yang ditekuni, Anda merasa semuanya bisa diselesaikan dengan capat dan mudah. Jangan salah, masih tetap dibutuhkan waktu, pikiran, dan konsentrasi untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan seberapa pun ahli Anda dalam melakukannya.
Lakukan terobosan dalam menyelesaikan pekerjaan Anda.Hal yang bisa dicoba, misalnya dengan bekerja menggunakan sistem multitasking.

Sistem ini mengadopsi cara bekerja komputer, dimana alat itu bisa melakukan lebih dari satu pekerjaan dalam satu waktu. Komputer bisa memainkan lagu sambil Anda mengetik. Dengan cara ini, Anda bisa mengerjakan dua atau tiga tugas dalam waktu bersamaan agar lebih menghemat waktu. Sudah bukan masanya lagi untuk berpikir bahwa yang satu bisa diselesaikan setelah yang lainnya. Kini, saatnya berpikir literal, banyak hal bisa dilakukan bersama dengan hasil yang tetap optimal.
Dengan bekerja cerdas, Anda telah mengoptimalkan waktu kerja Iebih efisien dan efektif. Semakin sederhana kehidupan kerja Anda, maka semakin sedikit waktu kerja, serta semakin besar peluang menambah penghasilan.SINDO dari berbagai sumber,Sabtu,29 Januari 2011. http://www.indonesiapower.co.id

Thursday, February 3, 2011

otioSejarah Kabupaten Tangerang

Sejarah kabupaten Tangerang
Kabupaten Tangerang sejak ratusan tahun lalu sudah menjadi daerah perlintasan perniagaan, perhubungan sosial dan interaksi antardaerah lain. Hal ini, disebabkan letak daerah ini yang berada di dua poros pusat perniagaan Jakarta – Banten.

Berdasarkan catatan sejarah, daerah ini sarat dengan konflik kepentingan perniagaan dan kekuasaan wilayah antara Kesultanan Banten dengan Penjajah Belanda.

Secara tutur-tinular, masa pemerintahan pertama secara sistematis yang bisa diungkapkan di daerah dataran ini, adalah saat Kesultanan Banten yang terus terdesak agresi penjajah Belanda lalu mengutus tiga maulananya yang berpangkat aria untuk membuat perkampungan pertahanan di Tangerang.
Ketiga maulana itu adalah Maulana Yudanegara, Wangsakerta dan SAntika. Konon, basis pertahanan merka berada di garis pertahanan ideal yang kini disebut kawasan Tigaraksa dan membentuk suatu pemerintahan. Sebab itu, di legenda rakyat cikal-bakal Kabupaten Tangerang adalah Tigaraksasa [sebutan Tigaraksasa, diambil dari sebutan kehormatan kepada tiga maulana sebagai tiga pimpinan = tiangtiga = Tigaraksa].

Pemerintahan ketiga maulana ini, pada akhirnya dapat ditumbangkan dan seluruh wilayah pemerintahannya dikuasai Belanda, berdasar catatan sejarah terjadi tahun 1684. Berdasar catatan pada masa ini pun, lahir sebutan kota Tangerang. Sebutan Tangerang lahir ketika Pangeran Soegri, salah seorang putra Sultan Ageng Tirtayasa dari Kesultanan Banten membangun tugu prasasti di bagian barat Sungai Cisadane [diyakini di kampung Gerendeng, kini].
Tugu itu disebut masyarakat waktu itu dengan Tangerang [bahasa Sunda=tanda] memuat prasasti dalam bahasa Arab Gundul Jawa Kuno, “Bismillah peget Ingkang Gusti/Diningsun juput parenah kala Sabtu/Ping Gangsal Sapar Tahun Wau/ Rengsenaperang netek Nangeran/Bungas wetan Cipamugas kilen Cidurian/Sakabeh Angraksa Sitingsun Parahyang”
Arti tulisan prasasti itu adalah: “Dengan nama Allah tetap Yang Maha Kuasa/Dari kami mengambil kesempatan pada hari Sabtu/Tanggal 5 Sapar Tahun Wau/Sesudah perang kita memancangkan tugu/Untuk mempertahankan batas timur Cipamugas [Cisadae] dan barat Cidurian/ Semua menjaga tanah kaum Parahyang”
Diperkirakan sebutan Tangeran, lalu lama-kelamaan berubah sebutan menjadi Tangerang.
Para bupati yang sempat memimpin Kabupaten Tangerang periode tahun 1682 – 1809 adalah Kyai Aria Soetadilaga I-VII. Setelah keturunan Aria Soetadilaga dinilai tak mampu lagi memerintah kabupaten Tangerang dengan baik, akhirnya penjajah Belanda menghapus pemerintahan di daerah ini dan memindahkan pusat pemerintahan ke Jakarta.
Lalu, dibuat kebijakan sebagian tanah di daerah itu dijual kepada orang-orang kaya di Jakarta, sebagian besarnya adalah orang-orang Cina kaya sehingga lahir masa tuan tanah di Tangerang.
Pada 8 Maret 1942, Pemerintahan Penjajah Belanda berakhir di gantikan Pemerintahan Penjajah Jepang. Namun terjadi serangan sekutu yang mendesak Jepang di berbagai tempat, sebab itu Pemerintahan Militer Jepang mulai memikirkan pengerahan pemuda-pemuda Indonesia guna membantu usaha pertahanan mereka sejak kekalahan armadanya di dekat Mid-way dan Kepulauan Solomon.
Kemudian pada tanggal 29 April 1943 dibentuklah beberapa organisasi militer, diantaranya yang terpenting ialah Keibodan [barisan bantu polisi] dan Seinendan [barisan pemuda]. Disusul pemindahan kedudukan Pemerintahan Jakarta Ken ke Tangerang dipimpin oleh Kentyo M Atik Soeardi dengan pangkat Tihoo Nito Gyoosieken atas perintah Gubernur Djawa Madoera. Adapun Tangerang pada waktu itu masih berstatus Gun atau kewedanan berstatus ken (kabupaten).
Berdasar Kan Po No. 34/2604 yang menyangkut pemindahan Jakarta Ken Yaskusyo ke Tangerang, maka Panitia Hari Jadi Kabupaten Tangerang menetapkan terbentuknya pemerintahan di Kabupaten Tangerang. Sebab itu , kelahiran pemerintahan daerah ini adalah pada tanggal 27 Desember 1943. Selanjutnya penetapan ini dikukuhkan dengan Peraturan Daerah Tingkat II Kabupaten Tangerang Nomor 18 Tahun 1984 tertanggal 25 Oktober 1984.
Tanggal 28 Pebruari 1993 terbit UU No. 2 Tahun 1993 tentang Pembentukan Kota Tangerang. Berdasarkan UU ini wilayah Kota Administratif Tangerang dibentuk menjadi daerah otonomi Kota Tangerang, yang lepas dari Kabupaten Tangerang. Berkaitan itu terbit pula Peraturan Pemerintah No. 14 Tahun 1995 tentang pemindahan Ibukota Kabupaten Dati II Tangerang dari Wilayah Kotamadya Dati II Tangerang ke Kecamatan Tigaraksa.
Akhirnya, pada awal tahun 2000, pusat pemerintahan Kabupaten Tangerang pun di pindahkan Bupati H. Agus Djunara ke Ibukota Tigaraksa. Pemindahan ini dinilai strategis dalam upaya memajukan daerah karena bertepatan dengan penerapan otonomi daerah, diberlakukannya perimbangan keuangan pusat dan daerah, adanya revisi pajak dan retribusi daerah, serta terbentuknya Propinsi Banten.
Sesungguhnya penduduk Tangerang dan Jakarta dahulu lebih mengenal Tangerang dengan sebutan Benteng. Sedangkan istilah nama Tangerang baru dikenal masyarakat luas sekitar Tahun 1712.

PENDUDUK DAN MATA PENCAHARIAN
Penduduk Kabupaten Tangerang bersifat heterogen , terdiri dari empat etnis, Sunda, Jawa, Betawi, dan Cina. Dua Etnis Sunda dan Jawa merupakan penduduk mayoritas. Umumnya orang Sunda berkomunikasi di daerah pedalaman, seperti Serpong, Pasar Kemis, Cikupa, Balaraja, Tigaraksa, Legok, Curug. Sedangkan orang Cina banyak menempati daerah utara seperti Teluknaga dan Kosambi.
Dalam kehidupan sehari-hari orang Sunda berbicara Bahasa Sunda dan orang Jawa berbicara Bahasa Jawa Serang. Tetapi antara kedua etnis ini bisa saling mengerti bahasa pergaulan mereka. Orang Cina yang menempati daerah Kabupaten Tangerang cukup banyak jumlahnya dan cukup luas penyebarannya terutama pada jaman kolonial, dan pola hidup mereka berbaur dengan cara hidup masyarakat setempat, seperti bertani, berekreasi, seni, budaya, dan perekonomian, khususnya perniagaan.
PEMBAGIAN WILAYAH
Pada akhir pemerintahan Kolonial Hindia Belanda, daerah Tangerang berkedudukan sebagai distrik (Kewedanaan) yang merupakan bagian daerah Jakarta (Batavia).
Pada masa pendudukan Jepang Tahun 1943, kedudukan daerah Tangerang ditingkatkan menjadi Kabupaten Tangerang, Ibu Kota Tangerang ini berada di Kota Tangerang. Pada masa Republik Indonesia daerah Kabupaten Tangerang menjadi bagian dari wilayah Provinsi Jawa Barat.
Pada tahun 1999 berdirilah Provinsi Banten sehingga Kabupaten Tangerang masuk wilayah administrativ Provinsi Banten Tahun 1993 Kabupaten Tangerang mengalami penurunan, akibat dibentuknya Kota Madya Tangerang, dengan dibentuknya undang-undang otonomi daerah.
Tahun 1992 Kabupaten Tangerang memiliki 21 kecamatan dan akhirnya tahun 2002 dimekarkan menjadi 26 kecamatan dan pada tahun 2007 sebagian kecamatan dimekarkan kembali.
Nama-Nama Kecamatan Yang ada Di Kabupaten Tangerang:
1. Ciputat 13. Teluk Naga 25. Gunung Kaler
2. Pondok Aren 14. Kosambi 26. Kelapa Dua
3. Serpong 15. Cisoka 27. Sindang Jaya
4. Legok 16. Sepatan 28. Sukamulya
5. Curug 17. Pakuhaji 29. Setu
6. Tigaraksa 18. Pamulang 30. Solear
7. Cikupa 19. Jayanti 31. Serpong Utara
8. Pasar Kemis 20. Kemiri 32. Serpong Timur
9. Rajeg 21. Jambe 33. Ciputat Timur
10. Balaraja 22. Panongan 34. Mekar Baru
11. Kronjo 23. Cisauk 35. Mauk
12. Kresek 24. Sukadiri 36. Pagedangan
Dengan jumlah desa 251 dan 77 kelurahan
Daftar Bupati Tangerang:
1. M. Atik Suardi Desember 1944 – Agustus 1945
2. R. Padmanegara Agustus 1945 – Oktober 1946
3. KH. Akhmad Khaerudin Oktober 1945 – Januari 1946
4. R. Akhyad Pena Januari 1946 – Juni 1946
5. KH. Abdul Hadi Juni 1946 – Juni 1947
6. Tb. Jayarukmana Juni 1947 – 1948 Bupati Militer
7. R. Akhyad Pena 1948 – 1952 Bupati Indonesia
8. RB. Nursat Jayadiningrat 1948 – 1952 Bupati Pasundan
9. RA. Afandi Wiradiputra 1952 – 1955
10. R. Ahmad Suriadi Kusumah 1955 – 1959 Bupati
R. Somawinata 1955 – 1956 Kepala Daerah
R. Kurdibratawilaga 1956 – 1959
11. Tb. Amin Abdullah 1959 – 1966
12. R.Moh. Nur Atmadibrata 1966 – Pejabat Bupati
13. H.E. Mukhdi 1966 – 1978
14. H. Muhammad Syukur 1978 – 1983
15. H. Tajus Sobirin 1983 – 1993
16. H. Saefulloh Abdurahman 1993 – 1998
17. H. Agus Junara 1998 – 2003
18. H. Ismet Iskandar 2003 – Sampai sekarang
TANGERANG SEBAGAI KOTA PELABUHAN
Bahwa Tangerang merupakan kota pelabuhan besar baik seperti kota-kota pelabuhan, Banten, Pontang dan Cikande. Pelabuhan Tangerang merupakan kota dan tempat dagang yang baik. Dipimpin seorang kapten yaitu Juru Labuan atau Syahbandar dalam tradisi Melayu. Ia seorang kepala pelabuhan yang mengatur dalam pengolahan pelabuhan bagi pelaut, pedagang dan lain-lain.
Kegiatan perniagaan di Kota Pelabuhan Tangerang dilakukan dengan para pedagang baik dari wilayah nusantara maupun dari luar nusantara yang datang dari wilayah timur dan barat seperti Andalis, Tulang Bawang, Jawa, Madura, Makasar, Tanjung Pura, Palembang, Jepang, Cina, India Selatan, Teluk Persia, Laut Merah. Barang dagangan yang dijual terdir atas beras, sayur-mayur, lada dan bahan makanan lainnya.
Pelabuhan Tangerang membentang dari pinggir Kali Kramat antara Tanjung Kait sampai Muara Cisadane yang sekarang berlokasi di Desa Kramat Kecamatan Pakuhaji, dan diperjelas pula dengan ditemukannya Fragmen Kapal Portugis di Situs Kramat Pakuhaji. Dengan demikian pada masa kerajaan Sunda, Kota Pelabuhan Tangerang disebut secara langsung dan tersirat dalam sejarah.
GEOGRAFI, TOPOGRAFI DAN HIDROLOGI
Daerah Kabupaten Tangerang terletak antara 106o 20’ antara 106o 43’ dan antara 6o 00 – 6o 20’ lintang selatan. Bagian terbesar daerah ini merupakan dataran rendah dengan ketinggian antara 0-50m dpl. Permukaan tanah relatif dengan sedikit kemiringan dengan tempat tertinggi. Di bagian selatan menurun ke bagian utara sampai pantai Laut Jawa yang rata-rata tingkat kemiringan tanahnya antara 0-8%. Daerah tertinggi mencakup lima kecamatan di bagian selatan yaitu Ciputat, Legok, Cisauk, Pamulang dan Serpong.
Daerah terendah berupa pantai landai yang terletak di bagian utara bagian daerah pantai yang meliputi enam kecamatan yaitu Mauk, Kronjo, Teluk Naga, Kosambi dan Kresek.
Luas daerah Kabupaten Tangerang terdiri dari 111.038 Ha. atau sekitar 1.110 Km2. Derah tersebut berbatasan langsung dengan Kabupaten Serang sebelah barat, Laut Jawa sebelah utara daerah Kota Tangerang dan daerah Khusus Ibu Kota Jakarta disebelah timur dan Kabupaten Bogor di sebelah selatan.
Di daerah Kabupaten Tangerang terdapat sejumlah sungai besar dan kecil yang umumnya mengalir dari selatan ke utara sesuai dengan arah penurunan permukaan tanah.
Nama-nama sungai di Kabupaten Tangerang adalah: Cisadane, Cidurian, Cimanceuri, Cirarab. Sungai Cisadane yang mengalir melalui Kota Tangerang berukuran paling besar dan paling panjang. Sungai tersebut mempunyai peran penting dalam sejarah Kabupaten Tangerang. Di sekitar sungai ini pernah berdiri pelabuhan yang cukup besar yang benama Pelabuhan Tangerang yang melakukan perdagangan luar dan dalam negeri. Alur sungai ini pernah berfungsi sebagai prasarana lalulintas air dengan sarana kapal, perahu dan rakit yang meghubungkan daerah pedalaman dengan pesisir. Kini sungai tersebut menghasilkan pasir untuk pembangunan. Sungai Cidurian Tangerang terbesar kedua di Kabupaten Tangerang berfungsi sebagai sumber air baik untuk pengairan lahan pertanian maupun untuk keperluan rumah tangga. Disamping itu berfungsi juga sebagai pengendali banjir, sumber penghasil ikan dan lain-lain.
Di daerah Kabupaten Tangerang didapat pula beberapa buah danau kecil atau situ antara lain: Situ Kelapa Dua, Situ Pamulang, Situ Gintung, Situ Garukgak dan Situ Patrasana. Situ tersebut berfungsi sebagai sumber air, pengendali banjir, objek wisata dan penghasil ikan. Disekitar situ-situ itu terdapat lahan berair dangkal berupa rawa-rawa yang luasnya berubah antara musim hujan dan musim kemarau. Sayang keberadaan situ dan rawa telah berubah fungsi menjadi perumahan dan industri.
Lahan di Kabupaten Tangerang difungsikan dalam beberapa macam, antara lain sebagai lahan pertainan (sawah) perkebunan, peternakan, perikanan (tambak), hutan, pemukiman, industri, perdagangan, padang golf, perairan dan lain-lain. Akhir-akhir ini fungsi lahan atau penggunaan lahan itu mengalami perubahan drastis dimana lahan pertanian semakin menyempit. Sedangkan non pertanian (perumahan, perdagangan, industri) makin bertambah jumlahnya.
MASA ISLAMISASI
Pedatangan Agama Islam telah membawa ke atas pentas sejarah tatar Sunda. Agama Islam diterima oleh masyarakata Sunda mula-mula oleh kalangan bawah (tingkat biasa), yang kemudian diikuti oleh kalangan atas (elit). Agama Islam telah melahirkan ideologi baru dalam masyarakat Sunda yaitu ideologi yang didasari oleh ajaran Islam tanpa membuang unsur-unsur norma, dan nilai-nilai budaya Sunda yang telah mapan yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip ajaran Islam.
Masuknya Agama Islam ke daerah Tangerang kiranya berbarengan dengan masuknya Islam ke kota pelabuhan Banten dan Sunda Kelapa karena letaknya berdampingan. Saat Sunan Ampel Denta pertama datang ke Banten sudah didapatinya penduduk yang beragama Islam walau bupatinya beragam Hindu. Bahkan di Banten sudah berdiri sebuah mesjid di Pecinan, yang kemudian diperbaiki oleh Syarif Hidayatullah.

Dalam “Purwaka Caruka Negeri” yang ditulis oleh Arya Cirebon pada Tahun 1720, dijelaskan bahwa Syarif Hidayatullah beserta 98 muridnya muridnya dari Cirebon berusaha mengislamkan penduduk di Banten. Dengan kesabaran dan ketekunan, banyaklah yang mengikuti jejak Syarif Hidayatullai ini. Bahkan, akhirnya Bupati Banten dan sebagian besar rakyatnya memeluk Agama Islam. Karena tertarik akan budi pekerti dan ketinggian ilmunya, maka Bupati Banten menikahkan Syarif Hidayatullah dengan adik perempuannya yang bernama Nyai Kawunganten. Dari pernikahan ini Syarif Hidayatullah dikaruniai dua orang anak yang diberi nama Ratu Winacen dan Hasanudin. Tidak lama kemudian, karena panggilan Karya Cakrabuana, Syarif Hidayatullah berangkat ke Cirebon. Di sana ia diangkat menjadi tumenggung yang memerintah daerah Cirebon, menggantikan uwaknya yang sudah tua. Sedangkan tugas penyebaran Islam di Banten diserahkan kepada anaknya yaitu Hasanudin.
from.DEWAN KESENIAN TANGERANG SELATAN dan berbagai sumber

Wednesday, February 2, 2011

Makan Sego Kucing

Malam telah tiba saat mau menjemput istri pulang kerja, terasa ingin makan sekali namun kalau makan di warung …he he makan yang di masak oleh sang istri tercinta tidak di makan. Akhirnya saya pun keliling mencar makanan yang tidak kenyang dan masih bisa makan di rumah. Tepatnya di depan RS Usada Insani saya pun sebelum makan yang aneh ini bertanya kepada penjual. Bang nasi apa nich …Sego Kucing???? Boleh donk lihat dulu akhirnya ada sedikit nasi sama ikan asin……o ini toch sego kucing 
Namun ada tungku dan tempat bakar  makanan  pendukung lainnya seperti Ditemani Sate Usus, Sate Jeroan, Sate Telor Puyuh juga Mendoan yang ingin  panas atau hangat bisa di campur .  Akhirnya sayapun  memesan nasi sego kucing + telor puyuh, tempe, sate dan minuman   ….setelah di jumlah akhirny hanya Rp. 6.000 Samabil makan dan nungguin istri belum tiba bincang – bincang mengenai sego kucing :  Gocing – Angkringan Sego Kucing, Sego dalam Bahasa Jawa, artinya nasi. Lalu kenapa disebut Sego Kucing? Ternyata karena porsinya yang sedikit banget, sama seperti porsinya Kucing kalau makan Bagi rekan – rekan yang belum makan selamat mencoba yach…….

Tuesday, February 1, 2011

Biografi Pemimpin Kabupaten Tangerang

Biografi  Pemimpin  Tangerang
Penulis penah membaca buku saku Pak Ismet Iskandar waktu 5 tahun yang lalu, namun buku itu di cari sudah tidak ada, tahun September 2006 Hal senada dikatakan Bupati Tangerang, H. Ismet Iskandar yang dalam sambutannya mengajak elemen pedagang kecil untuk melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Puwnten.
“Ini adalah untuk kepentingan masyarakat. Jadi silakan nanti para pedagang yang punya toko kecil kalau mau bersatu bisa juga memiliki toko seperti ini. Tapi namanya bukan Alfamart, tapi Puwnten Mart,” cetus Ismet Iskandar. http://www.radarbanten.com waktu itu Pak Ismet Iskandar telah menjadi Bupati dan penulis melihat dan mendengarkan pidato pembukaan Alfa Mart yang di kelola oleh PUWTEN “ Paguyuban Warga Banten di Cikupa RT 01/01  nach ini biodata sekilas tentang Pak Ismet Iskandar:
Nama Lengkap            Drs. H. ISMET ISKANDAR
Tempat dan Tanggal Lahir      Rangkas Bitung, 02 Mei 1948
Alamat Giri Loka III Sektor IV No. 17
Rt. 01 Rw. 01 Lengkong Wetan
Serpong – Kabupaten Tangerang – Banten
Nama Istri       Hj. Chandra Elia
Jumlah Anak    3 orang
1. Ahmed Zaki Iskandar
2. Intan Nurul Hikmah
3. Ahmed Zulfikar Ibrahim A
Istilah Pak Ismet Iskandar atau di sebut Pa’ Adeng adalah pemimpin yang merintis karirnya dari dasar. Meski sempat menumpang lahir di daerah sedikit ke Barat, ia adalah anak bumi-putera. Sepanjang titian karirnya yang mendaki setapak demi setapak, ia merasakan kegundahan yang kian hari kian mengusik tidurnya. Apalagi, di awal karirnya, ia mempersunting dara daerah ini yang meski putri orang yang sangat terpandang, tak segan mendampinginya menjelata. Sang istri pun membantu karir Pa’ Adeng dengan memberikan sumbangsih yang luar biasa, amat sangat luar biasa.
Barangkali itulah sebabnya, sesaat menjelang diresmikannya dua bangunan monumental, Pa’ Adeng sering kelihatan berkaca-kaca. Masjid Al-Amjad dan Tangerang Islamic Center adalah prioritas utama beliau disamping persoalan pendidikan dan prasarana jalan. Dan itu sangat logis. Al-Amjad akan menjadi monumen abadi dari perjalanan kepemerintahan yang manipulatif. Mesjid itu tidak kunjung jadi bukan lantaran faktor finansial. Mesjid agung di Tigaraksa itu harus menunggu 12 tahun untuk hadirnya satu komitmen yang tegas bagi penyelesaian pembangunannya.
Bagi Pa’ Adeng, monumen yang juga menjadi landmark itu jauh lebih baik dalam wujud sebuah mesjid, daripada berupa airmancur menari, tugu pencakar langit, jembatan penyeberangan yang salah tempat, maupun gerbang-gerbang raksasa yang sesungguhnya cuma space iklan.
Sementara terhadap Islamic Center, jelas bahwa Tangerang yang agamis harus mewujud konkrit. Lagi pula, umaro yang baik adalah yang senantiasa berada di pintu ulamanya. Islamic Center disamping sebagai sentra syiar dan dakwah, sentra kebudayaan Islamiah, ia adalah ‘rumah’ para ulama kita –ia adalah sentra silaturrahim ulama, umaro dan ummat kita.
TANPA terasa, dua tahun berlalu sudah. Dua monumen mewujud sudah, secara fisik. Padahal, dua tahun ini begitu banyak perubahan ideologis, filosofis dan non fisik lainnya yang telah tertata. Banyak yang tak terbaca, tak tertangkap mata. Mereka hanya bisa tertangkap rasa. Pa’ Adeng pun sepertinya sengaja tidak mempermaklumkannya dalam propaganda. Tapi, siapapun tahu, orang yang seperti apa yang berani ‘melabrak’ gubernur, menteri, ketua umum pssi…, ah.
Tulisan ini sengaja didedikasikan bagi Pa’ Adeng, sebagai ucapan selamat atas selesainya pembangunan fisik Mesjid Al-Amjad dan Tangerang Islamic Center. Semoga Allah mencurahkan limpahan rahmat, hidayah, kesehatan dan umur panjang serta rezeki baginya. From http://semburatjingga.blogspot.com

R a n o K a r n o lahir di Jakarta, 8 Oktober 1960, sebagai putra ketiga dari enam bersaudara, pasangan Soekarno M. Noer (Minang) dan Istiarti M Noer (Jawa) adalah seorang aktor Indonesia yang terkenal sebagai “Si Doel” dalam film sinetron Si Doel Anak Sekolahan. Ayahnya adalah seorang aktor kawakan, selain itu dia juga mempunyai saudara kandung yang juga turut bermain film yaitu Tino Karno dan Suti Karno. Rano menikah dengan Dewi Indriati pada 8 Februari 1988 dan dikaruniai 2 orang anak, Raka Widyarma dan Deanti Rakasiwi.
Atas rekomendasi Prof Dr Emil Salim, Rano Karno pernah diangkat sebagai duta khusus Indonesia dalam bidang pendidikan oleh UNICEF, sebuah badan di PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa) yang bergerak dalam bidang pendidikan
Karir politik. Di awal tahun 2007, Rano pernah berpamitan kepada insan film nasional, untuk lebih berkonsentrasi dalam ‘karir baru’-nya sebagai Calon Wakil Gubernur (Cawagub) DKI Jakarta. Rano kembali mengejutkan publik di penghujung 2007 dengan menyatakan bahwa dirinya telah ditetapkan sebagai Calon Wakil Bupati (Cawabup) Tangerang sesuai dengan keputusan partai pendukungnya untuk mendampingi Calon Bupati Ismet Iskandar pada Pilkada Tangerang 2008. Pasangan ini kemudian terpilih sebagai pemenang dan Rano menjadi Wakil Bupati Tangerang untuk periode 2008-2013.
Sedikit informasi tentang pandangan wakil Bupati :
Apa “mimpi” atau Visi Bapak untuk membangunan Kabupaten Tangerang dalam kerangka waktu 20 tahun kedepan?
Rano Karno : Sebagai Wakil Bupati, saya memiliki harapan untuk mewujudkan masyarakat Kabupaten Tangerang yang sejahtera dan beriman, mampu bersaing di era globalisasi, serta kritis terhadap lingkungannya
sebagai seorang ayah, apa “mimpi” bapak untuk anak-anak?
Rano Karno : tentu saja saya ingin mereka dapat melebihi saya, tapi saya tidak pernah mengarahkan mereka untuk menjadi seperti saya. Jujur saja dulu saya pernah dilarang oleh orang tua saya untuk menjadi seniman karena pada saat itu seniman masa depannya tidak jelas. Oleh karena itu saya tidak pernah memaksakan anak saya mau menjadi apa, yang penting saya mau mereka dapat melebihi saya. Kemarin anak saya menanyakan pak enaknya jadi apa ya pak. Anak saya yang besar bilang mau jadi pemusik, yaa saya bilang kalau mau jadi pemusik jadilah pemusik yang baik. Lalu anak saya yang kecil bilang, tapi aku nggak mau jadi pemain film kaya ayah, soalnya capek.
Enak mana jadi artis atau politikus?
Rano Karno : waduhhhhh.. pada intinya saya hanya ingin mengabdi dan memberikan contoh yacng baik untuk masyarakat. Sebagai contoh, saya adalah perokok, tapi mana pernah si doel ngerokok, karena saya nggak mau orang berpendapat, gara-gara si doel anak gue jadi perokok, nah gitu. Pada dasarnya sama saja hanya lingkup dan lingkungannya saja yang beda.