Kamis, 03 Februari 2011

otioSejarah Kabupaten Tangerang

Sejarah kabupaten Tangerang
Kabupaten Tangerang sejak ratusan tahun lalu sudah menjadi daerah perlintasan perniagaan, perhubungan sosial dan interaksi antardaerah lain. Hal ini, disebabkan letak daerah ini yang berada di dua poros pusat perniagaan Jakarta – Banten.

Berdasarkan catatan sejarah, daerah ini sarat dengan konflik kepentingan perniagaan dan kekuasaan wilayah antara Kesultanan Banten dengan Penjajah Belanda.

Secara tutur-tinular, masa pemerintahan pertama secara sistematis yang bisa diungkapkan di daerah dataran ini, adalah saat Kesultanan Banten yang terus terdesak agresi penjajah Belanda lalu mengutus tiga maulananya yang berpangkat aria untuk membuat perkampungan pertahanan di Tangerang.
Ketiga maulana itu adalah Maulana Yudanegara, Wangsakerta dan SAntika. Konon, basis pertahanan merka berada di garis pertahanan ideal yang kini disebut kawasan Tigaraksa dan membentuk suatu pemerintahan. Sebab itu, di legenda rakyat cikal-bakal Kabupaten Tangerang adalah Tigaraksasa [sebutan Tigaraksasa, diambil dari sebutan kehormatan kepada tiga maulana sebagai tiga pimpinan = tiangtiga = Tigaraksa].

Pemerintahan ketiga maulana ini, pada akhirnya dapat ditumbangkan dan seluruh wilayah pemerintahannya dikuasai Belanda, berdasar catatan sejarah terjadi tahun 1684. Berdasar catatan pada masa ini pun, lahir sebutan kota Tangerang. Sebutan Tangerang lahir ketika Pangeran Soegri, salah seorang putra Sultan Ageng Tirtayasa dari Kesultanan Banten membangun tugu prasasti di bagian barat Sungai Cisadane [diyakini di kampung Gerendeng, kini].
Tugu itu disebut masyarakat waktu itu dengan Tangerang [bahasa Sunda=tanda] memuat prasasti dalam bahasa Arab Gundul Jawa Kuno, “Bismillah peget Ingkang Gusti/Diningsun juput parenah kala Sabtu/Ping Gangsal Sapar Tahun Wau/ Rengsenaperang netek Nangeran/Bungas wetan Cipamugas kilen Cidurian/Sakabeh Angraksa Sitingsun Parahyang”
Arti tulisan prasasti itu adalah: “Dengan nama Allah tetap Yang Maha Kuasa/Dari kami mengambil kesempatan pada hari Sabtu/Tanggal 5 Sapar Tahun Wau/Sesudah perang kita memancangkan tugu/Untuk mempertahankan batas timur Cipamugas [Cisadae] dan barat Cidurian/ Semua menjaga tanah kaum Parahyang”
Diperkirakan sebutan Tangeran, lalu lama-kelamaan berubah sebutan menjadi Tangerang.
Para bupati yang sempat memimpin Kabupaten Tangerang periode tahun 1682 – 1809 adalah Kyai Aria Soetadilaga I-VII. Setelah keturunan Aria Soetadilaga dinilai tak mampu lagi memerintah kabupaten Tangerang dengan baik, akhirnya penjajah Belanda menghapus pemerintahan di daerah ini dan memindahkan pusat pemerintahan ke Jakarta.
Lalu, dibuat kebijakan sebagian tanah di daerah itu dijual kepada orang-orang kaya di Jakarta, sebagian besarnya adalah orang-orang Cina kaya sehingga lahir masa tuan tanah di Tangerang.
Pada 8 Maret 1942, Pemerintahan Penjajah Belanda berakhir di gantikan Pemerintahan Penjajah Jepang. Namun terjadi serangan sekutu yang mendesak Jepang di berbagai tempat, sebab itu Pemerintahan Militer Jepang mulai memikirkan pengerahan pemuda-pemuda Indonesia guna membantu usaha pertahanan mereka sejak kekalahan armadanya di dekat Mid-way dan Kepulauan Solomon.
Kemudian pada tanggal 29 April 1943 dibentuklah beberapa organisasi militer, diantaranya yang terpenting ialah Keibodan [barisan bantu polisi] dan Seinendan [barisan pemuda]. Disusul pemindahan kedudukan Pemerintahan Jakarta Ken ke Tangerang dipimpin oleh Kentyo M Atik Soeardi dengan pangkat Tihoo Nito Gyoosieken atas perintah Gubernur Djawa Madoera. Adapun Tangerang pada waktu itu masih berstatus Gun atau kewedanan berstatus ken (kabupaten).
Berdasar Kan Po No. 34/2604 yang menyangkut pemindahan Jakarta Ken Yaskusyo ke Tangerang, maka Panitia Hari Jadi Kabupaten Tangerang menetapkan terbentuknya pemerintahan di Kabupaten Tangerang. Sebab itu , kelahiran pemerintahan daerah ini adalah pada tanggal 27 Desember 1943. Selanjutnya penetapan ini dikukuhkan dengan Peraturan Daerah Tingkat II Kabupaten Tangerang Nomor 18 Tahun 1984 tertanggal 25 Oktober 1984.
Tanggal 28 Pebruari 1993 terbit UU No. 2 Tahun 1993 tentang Pembentukan Kota Tangerang. Berdasarkan UU ini wilayah Kota Administratif Tangerang dibentuk menjadi daerah otonomi Kota Tangerang, yang lepas dari Kabupaten Tangerang. Berkaitan itu terbit pula Peraturan Pemerintah No. 14 Tahun 1995 tentang pemindahan Ibukota Kabupaten Dati II Tangerang dari Wilayah Kotamadya Dati II Tangerang ke Kecamatan Tigaraksa.
Akhirnya, pada awal tahun 2000, pusat pemerintahan Kabupaten Tangerang pun di pindahkan Bupati H. Agus Djunara ke Ibukota Tigaraksa. Pemindahan ini dinilai strategis dalam upaya memajukan daerah karena bertepatan dengan penerapan otonomi daerah, diberlakukannya perimbangan keuangan pusat dan daerah, adanya revisi pajak dan retribusi daerah, serta terbentuknya Propinsi Banten.
Sesungguhnya penduduk Tangerang dan Jakarta dahulu lebih mengenal Tangerang dengan sebutan Benteng. Sedangkan istilah nama Tangerang baru dikenal masyarakat luas sekitar Tahun 1712.

PENDUDUK DAN MATA PENCAHARIAN
Penduduk Kabupaten Tangerang bersifat heterogen , terdiri dari empat etnis, Sunda, Jawa, Betawi, dan Cina. Dua Etnis Sunda dan Jawa merupakan penduduk mayoritas. Umumnya orang Sunda berkomunikasi di daerah pedalaman, seperti Serpong, Pasar Kemis, Cikupa, Balaraja, Tigaraksa, Legok, Curug. Sedangkan orang Cina banyak menempati daerah utara seperti Teluknaga dan Kosambi.
Dalam kehidupan sehari-hari orang Sunda berbicara Bahasa Sunda dan orang Jawa berbicara Bahasa Jawa Serang. Tetapi antara kedua etnis ini bisa saling mengerti bahasa pergaulan mereka. Orang Cina yang menempati daerah Kabupaten Tangerang cukup banyak jumlahnya dan cukup luas penyebarannya terutama pada jaman kolonial, dan pola hidup mereka berbaur dengan cara hidup masyarakat setempat, seperti bertani, berekreasi, seni, budaya, dan perekonomian, khususnya perniagaan.
PEMBAGIAN WILAYAH
Pada akhir pemerintahan Kolonial Hindia Belanda, daerah Tangerang berkedudukan sebagai distrik (Kewedanaan) yang merupakan bagian daerah Jakarta (Batavia).
Pada masa pendudukan Jepang Tahun 1943, kedudukan daerah Tangerang ditingkatkan menjadi Kabupaten Tangerang, Ibu Kota Tangerang ini berada di Kota Tangerang. Pada masa Republik Indonesia daerah Kabupaten Tangerang menjadi bagian dari wilayah Provinsi Jawa Barat.
Pada tahun 1999 berdirilah Provinsi Banten sehingga Kabupaten Tangerang masuk wilayah administrativ Provinsi Banten Tahun 1993 Kabupaten Tangerang mengalami penurunan, akibat dibentuknya Kota Madya Tangerang, dengan dibentuknya undang-undang otonomi daerah.
Tahun 1992 Kabupaten Tangerang memiliki 21 kecamatan dan akhirnya tahun 2002 dimekarkan menjadi 26 kecamatan dan pada tahun 2007 sebagian kecamatan dimekarkan kembali.
Nama-Nama Kecamatan Yang ada Di Kabupaten Tangerang:
1. Ciputat 13. Teluk Naga 25. Gunung Kaler
2. Pondok Aren 14. Kosambi 26. Kelapa Dua
3. Serpong 15. Cisoka 27. Sindang Jaya
4. Legok 16. Sepatan 28. Sukamulya
5. Curug 17. Pakuhaji 29. Setu
6. Tigaraksa 18. Pamulang 30. Solear
7. Cikupa 19. Jayanti 31. Serpong Utara
8. Pasar Kemis 20. Kemiri 32. Serpong Timur
9. Rajeg 21. Jambe 33. Ciputat Timur
10. Balaraja 22. Panongan 34. Mekar Baru
11. Kronjo 23. Cisauk 35. Mauk
12. Kresek 24. Sukadiri 36. Pagedangan
Dengan jumlah desa 251 dan 77 kelurahan
Daftar Bupati Tangerang:
1. M. Atik Suardi Desember 1944 – Agustus 1945
2. R. Padmanegara Agustus 1945 – Oktober 1946
3. KH. Akhmad Khaerudin Oktober 1945 – Januari 1946
4. R. Akhyad Pena Januari 1946 – Juni 1946
5. KH. Abdul Hadi Juni 1946 – Juni 1947
6. Tb. Jayarukmana Juni 1947 – 1948 Bupati Militer
7. R. Akhyad Pena 1948 – 1952 Bupati Indonesia
8. RB. Nursat Jayadiningrat 1948 – 1952 Bupati Pasundan
9. RA. Afandi Wiradiputra 1952 – 1955
10. R. Ahmad Suriadi Kusumah 1955 – 1959 Bupati
R. Somawinata 1955 – 1956 Kepala Daerah
R. Kurdibratawilaga 1956 – 1959
11. Tb. Amin Abdullah 1959 – 1966
12. R.Moh. Nur Atmadibrata 1966 – Pejabat Bupati
13. H.E. Mukhdi 1966 – 1978
14. H. Muhammad Syukur 1978 – 1983
15. H. Tajus Sobirin 1983 – 1993
16. H. Saefulloh Abdurahman 1993 – 1998
17. H. Agus Junara 1998 – 2003
18. H. Ismet Iskandar 2003 – Sampai sekarang
TANGERANG SEBAGAI KOTA PELABUHAN
Bahwa Tangerang merupakan kota pelabuhan besar baik seperti kota-kota pelabuhan, Banten, Pontang dan Cikande. Pelabuhan Tangerang merupakan kota dan tempat dagang yang baik. Dipimpin seorang kapten yaitu Juru Labuan atau Syahbandar dalam tradisi Melayu. Ia seorang kepala pelabuhan yang mengatur dalam pengolahan pelabuhan bagi pelaut, pedagang dan lain-lain.
Kegiatan perniagaan di Kota Pelabuhan Tangerang dilakukan dengan para pedagang baik dari wilayah nusantara maupun dari luar nusantara yang datang dari wilayah timur dan barat seperti Andalis, Tulang Bawang, Jawa, Madura, Makasar, Tanjung Pura, Palembang, Jepang, Cina, India Selatan, Teluk Persia, Laut Merah. Barang dagangan yang dijual terdir atas beras, sayur-mayur, lada dan bahan makanan lainnya.
Pelabuhan Tangerang membentang dari pinggir Kali Kramat antara Tanjung Kait sampai Muara Cisadane yang sekarang berlokasi di Desa Kramat Kecamatan Pakuhaji, dan diperjelas pula dengan ditemukannya Fragmen Kapal Portugis di Situs Kramat Pakuhaji. Dengan demikian pada masa kerajaan Sunda, Kota Pelabuhan Tangerang disebut secara langsung dan tersirat dalam sejarah.
GEOGRAFI, TOPOGRAFI DAN HIDROLOGI
Daerah Kabupaten Tangerang terletak antara 106o 20’ antara 106o 43’ dan antara 6o 00 – 6o 20’ lintang selatan. Bagian terbesar daerah ini merupakan dataran rendah dengan ketinggian antara 0-50m dpl. Permukaan tanah relatif dengan sedikit kemiringan dengan tempat tertinggi. Di bagian selatan menurun ke bagian utara sampai pantai Laut Jawa yang rata-rata tingkat kemiringan tanahnya antara 0-8%. Daerah tertinggi mencakup lima kecamatan di bagian selatan yaitu Ciputat, Legok, Cisauk, Pamulang dan Serpong.
Daerah terendah berupa pantai landai yang terletak di bagian utara bagian daerah pantai yang meliputi enam kecamatan yaitu Mauk, Kronjo, Teluk Naga, Kosambi dan Kresek.
Luas daerah Kabupaten Tangerang terdiri dari 111.038 Ha. atau sekitar 1.110 Km2. Derah tersebut berbatasan langsung dengan Kabupaten Serang sebelah barat, Laut Jawa sebelah utara daerah Kota Tangerang dan daerah Khusus Ibu Kota Jakarta disebelah timur dan Kabupaten Bogor di sebelah selatan.
Di daerah Kabupaten Tangerang terdapat sejumlah sungai besar dan kecil yang umumnya mengalir dari selatan ke utara sesuai dengan arah penurunan permukaan tanah.
Nama-nama sungai di Kabupaten Tangerang adalah: Cisadane, Cidurian, Cimanceuri, Cirarab. Sungai Cisadane yang mengalir melalui Kota Tangerang berukuran paling besar dan paling panjang. Sungai tersebut mempunyai peran penting dalam sejarah Kabupaten Tangerang. Di sekitar sungai ini pernah berdiri pelabuhan yang cukup besar yang benama Pelabuhan Tangerang yang melakukan perdagangan luar dan dalam negeri. Alur sungai ini pernah berfungsi sebagai prasarana lalulintas air dengan sarana kapal, perahu dan rakit yang meghubungkan daerah pedalaman dengan pesisir. Kini sungai tersebut menghasilkan pasir untuk pembangunan. Sungai Cidurian Tangerang terbesar kedua di Kabupaten Tangerang berfungsi sebagai sumber air baik untuk pengairan lahan pertanian maupun untuk keperluan rumah tangga. Disamping itu berfungsi juga sebagai pengendali banjir, sumber penghasil ikan dan lain-lain.
Di daerah Kabupaten Tangerang didapat pula beberapa buah danau kecil atau situ antara lain: Situ Kelapa Dua, Situ Pamulang, Situ Gintung, Situ Garukgak dan Situ Patrasana. Situ tersebut berfungsi sebagai sumber air, pengendali banjir, objek wisata dan penghasil ikan. Disekitar situ-situ itu terdapat lahan berair dangkal berupa rawa-rawa yang luasnya berubah antara musim hujan dan musim kemarau. Sayang keberadaan situ dan rawa telah berubah fungsi menjadi perumahan dan industri.
Lahan di Kabupaten Tangerang difungsikan dalam beberapa macam, antara lain sebagai lahan pertainan (sawah) perkebunan, peternakan, perikanan (tambak), hutan, pemukiman, industri, perdagangan, padang golf, perairan dan lain-lain. Akhir-akhir ini fungsi lahan atau penggunaan lahan itu mengalami perubahan drastis dimana lahan pertanian semakin menyempit. Sedangkan non pertanian (perumahan, perdagangan, industri) makin bertambah jumlahnya.
MASA ISLAMISASI
Pedatangan Agama Islam telah membawa ke atas pentas sejarah tatar Sunda. Agama Islam diterima oleh masyarakata Sunda mula-mula oleh kalangan bawah (tingkat biasa), yang kemudian diikuti oleh kalangan atas (elit). Agama Islam telah melahirkan ideologi baru dalam masyarakat Sunda yaitu ideologi yang didasari oleh ajaran Islam tanpa membuang unsur-unsur norma, dan nilai-nilai budaya Sunda yang telah mapan yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip ajaran Islam.
Masuknya Agama Islam ke daerah Tangerang kiranya berbarengan dengan masuknya Islam ke kota pelabuhan Banten dan Sunda Kelapa karena letaknya berdampingan. Saat Sunan Ampel Denta pertama datang ke Banten sudah didapatinya penduduk yang beragama Islam walau bupatinya beragam Hindu. Bahkan di Banten sudah berdiri sebuah mesjid di Pecinan, yang kemudian diperbaiki oleh Syarif Hidayatullah.

Dalam “Purwaka Caruka Negeri” yang ditulis oleh Arya Cirebon pada Tahun 1720, dijelaskan bahwa Syarif Hidayatullah beserta 98 muridnya muridnya dari Cirebon berusaha mengislamkan penduduk di Banten. Dengan kesabaran dan ketekunan, banyaklah yang mengikuti jejak Syarif Hidayatullai ini. Bahkan, akhirnya Bupati Banten dan sebagian besar rakyatnya memeluk Agama Islam. Karena tertarik akan budi pekerti dan ketinggian ilmunya, maka Bupati Banten menikahkan Syarif Hidayatullah dengan adik perempuannya yang bernama Nyai Kawunganten. Dari pernikahan ini Syarif Hidayatullah dikaruniai dua orang anak yang diberi nama Ratu Winacen dan Hasanudin. Tidak lama kemudian, karena panggilan Karya Cakrabuana, Syarif Hidayatullah berangkat ke Cirebon. Di sana ia diangkat menjadi tumenggung yang memerintah daerah Cirebon, menggantikan uwaknya yang sudah tua. Sedangkan tugas penyebaran Islam di Banten diserahkan kepada anaknya yaitu Hasanudin.
from.DEWAN KESENIAN TANGERANG SELATAN dan berbagai sumber
Show comments
Hide comments

3 komentar: