Rabu, 12 Oktober 2011

Komunitas Topi Bambu Dan Pilgub Banten 2011, Antara Kerajinan Dan Pesta Politik

Tak terasa, 22 Oktober 2011 nanti, Provinsi Banten untuk kedua kalinya akan melaksanakan pemilihan langsung Gubernur. Hiruk pikuk pesta politik di provinsi yang masih belia itu jelas akan mencapai puncaknya pada momen pemilihan nanti. Dan sudah barang tentu di saat momen-momen seperti ini sebagian rakyat gembira karena industri musiman, benar, Industri Politik kembali menggeliat di bumi Banten. Pun dengan Kabupaten Tangerang yang merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Banten. Sebagai daerah asal Komunitas Topi Bambu berdiri, atmosfir panas pertandingan politik terasa jelas di sini.

Terlahir sebagai komunitas independen yang di latar belakangi oleh produk kerajinan di Kabupaten Tangerang yang semakin hari semakin terjepit oleh sepinya minat muda-mudi dan kerajinan impor, Komunitas Topi Bambu berharap dalam pemilihan nanti akan ada revolusi pemikiran pemimpin terpilih untuk lebih aktif mengkampanyekan isu-isu kerajinan dan UMKM dalam agenda kerja pemerintah. Kami berharap, pemerintah turut serta dalam mensosialisasikan kerajinan dan produk-produk UMKM lebih kreatif.  Contohnya, Tidak hanya dengan memberikan bantuan modal semata, tetapi bantuan sosialisasi produk kerajinan melalui kampanye di jejaring sosial dan institusi-institusi pendidikan yang kami rasa perlu mendapat dukungan karena akan menyasar langsung kepada minat muda-mudi. Berhasilnya proses sosialisasi produk kerajinan di kalangan muda-mudi, jelas akan berdampak pada bertambahnya demand (permintaan) terhadap produk-produk kerajinan dan sudah barang tentu menaikan nilai supply (pasokan) yang lebih banyak sehingga diharapkan mampu memompa minat muda-mudi untuk berkreasi dengan hasta karya daerah asalnya.
Untuk itu, Komunitas Topi Bambu mengajak kepada para pengunjung sekalian khususnya warga Banten agar memilih dengan tepat calon pemimpin nanti. Pilihlah dengan hati nurani, dengan mata hati yang terbuka. Golput bukanlah jawaban yang tepat, karena kami percaya para calon pemimpin tersebut adalah Manusia yang memang tak sempurna tapi setidaknya mereka pasti punya cinta.
Memang, terkadang Pemilu, Pilkada dan sejenisnya seperti terdengar sebagai bualan omong kosong. Terlebih ketika masih terdengar kabar robohnya bangunan sekolah. Kabar buruknya jalan dan kabar mahalnya pendidikan. Pemilu bagi kaum kecil hanya sebagai hiburan yang justru menanam luka. Mungkin…
Tapi kami tetap percaya dan tetap optimis bahwa Pemilu, Pilkada dan sejenisnya tetap akan menjadi jalan utama dalam menggapai cita-cita Bangsa. Menggapai cita-cita para pahlawan yang menginginkan Bumi Pertiwi terlepas dari belenggu kemiskinan dan kebodohan sehingga tak ada lagi para perajin, sang pembuat mahakarya seni makan ala kadarnya.
Tetap cintai produk Tanah Air…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar