Monday, March 30, 2015

Kopdar dan diskusi komunitas about Tng

Wow cukup menarik di tangerang raya sudah berdiri komunitas yang peduli tentang budaya tangerang raya dengan bukti About tng  dapat bertemu bersama kang none dari tangkota, tangsel dan tangbar ... semua bertujuan untuk mengiatkan pada wisata tangerang raya.

Dengan kegiatan ini baik masyarakat ,pelajar dan pemuda dapat memberikan nilai positif untuk memajukan kekayaan alam dan budaya tangerang ujar kang erwin founder about tng saat ngobrol bersama  topi bambu (kangagush).

Ucapan terima kasih kepada panitia dari komunitas topi bambu mendapatkan kehormatan untuk share tentang komunitas topibambu dgn materi topi bambu mengajak audience agar dapat mencatat dan menulis dan memfoto baik ukm, wisata, pendidikan, kegiatan masyarakat atau  kegiatan atau aktivitas yg terkait untuk kemajuan tangerang  baik blog sendiri atau melalui topi bambu ini sambil berbagi cara memulai usaha bersama topi bambu.

Kondisi sebelum acara

Registrasi peserta 

Sunday, March 22, 2015

MUHAMMAD ARIF KIRDIAT, PENDIRI ORGANISASI RELAWAN KAMPUNG, UNTUK MEMPERBAIKI DAN MEMBANGUN JEMBATAN RUSAK

Pertengahan Maret 2015 topibambu bersilaturahmi bersama kang Arif di kediaman di daerah Serang kota Baru, kurang lebih 2 jam, bersamanya bercerita tentang kegiatan dan perkembangan jembatan di silayah Banten dan sekitarnya sampai akhirnya topibambu mecari link di dunia maya http://www.bestyoungindonesia.blogspot.com/2014/02/muhammad-arif-kirdiat-pendiri.html

Kondisi jembatan Sebelum Di Perbaiki


“Lebih baik menyalakan lilin daripada mencari kegelapan”. Prinsip ini disampaikan Muhammad Arif Kirdiat, Koordinator Relawan Kampung. Organisasi masyarakat ini bergerak dalam bidang perbaikan dan pembangunan jembatan rusak serta belum dibangun di Provinsi Banten. Arif, begitu sapaannya, tergugah untuk membangun jembatan sejak 2009 lalu karena melihat kondisi nyata banyaknya sarana tersebut yang rusak dan belum tersedia di Banten. 

Ia pun mengaku miris dengan kejadian putusnya tali jembatan gantung di Kampung Pekarungan, RT 4-RW 2, Kelurahan Kagungan, Kecamatan Kota Serang, Provinsi Banten, yang mengakibatkan puluhan manusia terjatuh ke sungai, akhir tahun 2013. Dan menurut Arif masih banyak kisah memilukan lain yang dialami rakyat Banten lantaran minimnya infrastruktur jembatan. Maka dari itu, ia sangat bersemangat untuk membangun jembatan yang menjadi simbol penghubung antara kemiskinan dan kesejateraan.

Jembatan Sudah Diperbaiki


Siswa Meniukmati Jembatan Yang baik

Arif menjelaskan memang banyak wilayah di Banten yang belum tersedia jembatan dan bila ada pun kondisinya rusak. Akibatnya, setiap hari warga, termasuk pelajar, terpaksa melintasi sungai untuk menuju lokasi tujuan. Bisa dibayangkan risiko kesalamatan mereka yang terancam.

Hal ini yang sering Arif lihat secara langsung ketika mengantar turis dari luar negeri ke sejumlah tempat wisata di Banten. Kebetulan ia mempunyai bisnis travel, Banten Holiday sejak tahun 2005. Menurut Arif, seharusnya masalah itu menjadi tugas pemerintah untuk menyediakan dan memperbaiki jembatan. Namun, ketika masalah ini disampaikan kepada Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Banten, tidak mendapatkan respons yang positif. Di antaranya, mereka terkesan saling lempar tanggung jawab dan terkendala masalah birokratis, seperti pembuatan proposal.

Kenyataan seperti inilah yang pada akhirnya menginspirasi Arif untuk menghimpun relawan yang bersedia membangun jembatan. Dasar upayanya ini sangat jelas, karena banyak warga yang membutuhkan perbaikan jalan dan jembatan. Sementara di sisi lain pemerintah belum mampu memberikan respons yang pasti. Walau sebenarnya, anggaran untuk perbaikan jembatan juga tidak besar sekali. Besarnya cukup jauh bila dibandingkan dengan dana kunjungan kerja pemerintah daerah yang cukup besar. 
Arif menggambarkan, untuk sekali kegiatan kunjungan kerja, pemerintah daerah bisa menghabiskan dana mencapai Rp 100 juta hingga Rp 200 juta. Bila dalam sebulan, ada sepuluh kali kunjungan kerja, maka bisa diperkirakan dana kunjungan kerja yang dikeluarkan totalnya bisa mencapai Rp 1-2 miliar. Maka wajar bila Arif mempertanyakan, kalau pemerintah memiliki dana untuk kunjungan kerja, tapi mengapa untuk membangun jembatan tidak ada ?
  

Namun Arif bersama kawan-kawannya sesama relawan akhirnya berprinsip, “lebih baik menyalakan lilin daripada mencaci kegelapan”. Menandakan, bahwa sebenarnya mereka sudah lelah mendemo pemerintah untuk menyuarakan tuntutan masyarakat. Maka lebih baik mereka langsung bergerak dan memberikan solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Menurut mereka, protes terbaik saat itu adalah dengan cara bekerja nyata mengatasi permasalahan yang ada.

Hal inilah yang menjadi awal lahirnya Relawa Kampung yang beranggotakan dari berbagai latar belakang profesi, seperti wartawan, dokter, dan karyawan swasta lainnya. Mereka lepas dari kepentingan politik atau pencitraan karena murni bergerak atas dasar kemanusiaan.


Relawan Kampung resmi bergerak sejak 2011, dan baru diakta notariskan pada 2013. Namun sebetulnya, kegiatannya sudah ia mulai sejak 2009 dengan memperbaiki jembatan gantung rusak di Desa Sawarna, yang menjadi salah satu objek wisata pantai andalan di selatan Banten.

Penggalangan dana untuk perbaikan jembatan itu dilakukan dengan mengambil momen pada acara salah satu partai di Banten. Namun, pembangunannya tidak dengan melibatkan partai karena berasal dari sumbangan warga yang hadir di acara itu.

Sejak didirikan, sampai awal tahun 2014 sudah ada 14 jembatan yang selesai dibangun oleh Relawan Kampung. Target mereka ada 100 jembatan yang dibangun untuk negeri. Kini, sasaran perbaikan jembatan memang diperluas karena kerusakan serupa juga terjadi di provinsi lain. Selain di Banten, Relawan Kampung juga telah selesai memperbaiki jembatan yang berada di Lampung, Kuningan, Jawa Barat, Magelang, Jawa Tengah, Makassar, Sulawesi Selatan, dan Lombok, Nusa Tenggara Barat.
Perbaikan jembatan di luar Banten ini mendapatkan bantuan dan kerja sama dengan salah satu ritel minimarket di Indonesia. Selain ritel, Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI Angkatan Darat juga ikut terlibat dalam membangun jembatan. Ada pula perbaikan jembatan yang dananya berasal dari para siswa SMA swasta di Jakarta.

Anehnya, donatur yang menyumbang perbaikan jembatan tidak ada yang berasal dari Banten. Hal ini karena ada ketentuan yang menyatakan dana corporate social responsibility (CSR) perusahaan harus melalui pemerintah kabupaten atau pemerintah kota setempat.




Proses kerja Relawan Kampung dalam membangun jembatan sifatnya reaktif. Ketika ada jembatan rusak, mereka akan mem-posting foto-fotonya di media sosial Facebook. Dari sanalah banyak warga maupun donatur yang tergerak untuk memberikan sumbangannya. Arif mencontohkan pembangunan jembatan pertama Relawan Kampung berada di Dukuh Handap, Kecamatan Cimanggu, Pandeglang. Setelah muncul di media sosial, ada seorang teman dari Singapura yang bersedia menyumbang hingga puluhan juta rupiah.

Selain itu, sumbangan juga mengalir dari sejumlah Negara, seperti Qatar dan Abu Dhabi. Total dana yang terkumpul pada waktu itu mencapai Rp 95 juta. Sementara, dana untuk perbaikan maupun renovasi jembatan berkisar antara Rp 75 juta hingga Rp 180 juta, tergantung lebar sungai dan panjang jembatan. Dana ini tentu saja lebih hemat dibandingkan pembangunan jembatan gantung yang dianggarkan pemerintah yang rata-rata mencapai Rp 350 juta.

Selama menjalankan kegiatannya, Arif bersama tim Relawan Kampung tentu saja kerap menemui sejumlah kendala di lapangan. Seperti susahnya menembus medan yang berat. Misalnya, mobil tidak bisa masuk ke area pembangunan jembatan. Akibatnya, pengangkutan material pembangunan jembatan dilakukan warga dengan cara dipikul dengan jarak yang cukup jauh. Kendala lainnya, pemerintah daerah setempat tidak mau jembatan tersebut dibangun. Namun karena warga mendesak maka pembangunan jembatan tetap berlanjut.

Menurut Arif, peran jembatan itu memang sangat penting bagi masyarakat di suatu daerah. Jembatan bisa menjadi simbol penghubung antara kemiskinan dan kekayaan atau kesejahteraan. Untuk mengembangkan sistem ekonomi di daerah, pemerintah sebetulnya tidak perlu mengeluarkan teori yang panjang lebar dan tidak dimengerti warga. Karena intinya sangat sederhana, yakni dengan cukup membangun jalan dan jembatan, yang akan bisa meningkatkan ekonomi warga. Jadi bisa dikatakan, jembatan akan ‘menjembatani’ warga agar lepas dari kemiskinan. Pasalnya, hasil bumi dari warga di pedesaan bisa secara mudah dibawa ke kota. Bila suatu desa bisa berkembang dengan pesat, maka warga tidak akan melakukan urbanisasi ke kota. Hal ini karena masyarakat sudah tercukup kebutuhannya di daerah. 


 

JENIS MACAM TANAMAN BAMBU INDONESIA

Komunitas Topi bambu berkunjung ke Akademi Bambu Nusantara di kediaman serang Banten, disana ada sebuah tempat kecil merupakan lab untuk menentukan jenis bambu.

Kegiatan bambu ini merupakan harapan insan masyarakat akan kepedulian tentang bambu nusantara harus dibudidayakan. Keberadaan bambu sangat penting mulai untuk keperluan rumah, kulihat bahkan arsitektur berbahan bambu.

Namun terkadang bambu selalu menjadi objek tidak go green karena di anggap selalu di ambil tanpa di tanam kembali. Nah semoga gambar aneka macam bambu menjadi sumber informasi, literatur ini kami dapatkan dari Banten Creative Community  bekerjasama dengan Komunitas Topi bambu  sebagai berikut :

Thursday, March 19, 2015

UKM kreatif Bamboo 2

Produk kreatif ini selalu ada, dengan harapan produk yang di buat ini akan mendapatkan nilai tambah yang tinggi sehingga pengrajin dapat meningkatkan perekonomian masyarakat desa.
topi bambu model batik banten
Topi bambu model tangerang

Kajen lebar warna tangerang
Instagram topibambu
Model akar unik
Hiasan kayu unik
                                                                            

Wednesday, March 11, 2015

UKM CRATIVE FROM BAMBOO

Sudah lama topi bambu berkunjung ke pengrajin baik selama kecil maupun besar , saat ini topi bambu bekerjasama dengan pak joko seorang pengusaha besar dan luar  biasa di sebut  bapak daur ulang ini.namun apabila ada pesanan skala kecil dan besarnya kami akan membuatnya demi kebutuhan customer dan mencintai produk dalam negri. Berikut ini hasil kreativitas tangan trampil pak joko seorang master yang berhasil " Berani Jadi Miliarder"

Tuesday, March 10, 2015

Aku dan Bambu : Edisi Membangkitkan Kembali Budaya Gotong Royong

Edisi ini topibambu mendapatkan artikel dari link Das Albantani nama samaran di dunia maya, namun beliau konsentari tentang bambu dan membuat " Banten Creative Community" untuk mencintai produk dalam negri khususnya dunia bambu yang banyak di tanam di negri tercinta ini.
ini link http://www.indonesianvillage.com/2015/03/10/aku-dan-bambu-edisi-membangkitkan-kembali-budaya-gotong-royong/

 Membangkitkan Kembali Budaya Gotong Royong Budaya gotong royong merupakan budaya khas orang Indonesia yang masih terjaga sampai saat ini.

Budaya tersebut masih bisa dinikmati di daerah perdesaan dan perkampungan. Gotong royong diartikan sebagai kegiatan pembangunan yang dilakukan secara bersama-sama tanpa mengharapkan imbalan upah materi dalam bentuk apapun. Semangatnya adalah kebersamaan dan guyub. Biasanya dilakukan untuk membangun
balai desa, infrastruktur desa, bahkan rumah tinggal. Berbeda dengan di desa, di kota, budaya gotong royong sudah sangat jarang sekali bahkan hilang berganti dengan budaya individualistik. Kesibukan manusia sekarang dalam menjalani kehidupan yang serba ‘gadget’ dan digital telah menggeser bahkan menghilangkan budaya gotong royong. Tapi tidak untuk kami, Banten Creative Community (BCC), Bahasa Jawa Serang (BJS) dan Facebook Banten News (FBN).


Saturday, March 7, 2015

Sinarmas Word Academy Sambangi Topibambu

 Nabilla, dari Sekolah Sinarmas World Academy  sebagai PIC yang telah membuat janji bersama komunitas TopiBambu sejak 3 bulan lalu, dan tepatnya tanggal 14 Februari, 2015 adapun maksud kunjungan ini melalui email menginginkan , ungkap Nabilla akan ada konferensi bernama Global Issues Network Indonesia (GINDO). Salah satu program utama dari konferensi GINDO adalah aktivitas hands-on. Dari aktivitas hands-on ini kami ingin memberikan pengalaman bagi peserta untuk dapat merasakan kerja langsung di lapangan, bukan hanya melalui presentasi dari ruang kelas saja. 

Saya mendengar tentang komunitas Topi Bambu dan merasa tertarik akan aktivitas yang dilakukan oleh komunitas Topi Bambu. Komunitas Topi Bambu sangat cocok untuk menjadi contoh bagi para peserta GINDO mengenai community empowerment. Kami berharap untuk mengenal komunitas topi bambu lebih jauh dari kunjungan ini. 

Kami berharap Topi Bambu bersedia untuk memandu dan menerima volunteer-volunteer kami untuk acara konferensi nanti. 

Adapun acara ini sebanyak 50 pelajar dari negara Asia yang sedang belajar di Indonesia ingin mengetahui tentang industri kreatif di tangerang.
Aktivitas yang diharapkan: Workshop/presentasi mengenai struktur dan komunitas Topi Bambu, interaksi langsung dengan warga di komunitas Topi Bambu, melakukan aktivitas volunteer dengan komunitas topi bambu. 

Workshop yang di berikan dalam hal ini di berikan langsung oleh founder topi bambu Kang agus dan kang begenk .kreatifitas bambu yang di kenalkan adalah pembuatan topi bambu, anyaman kipas dan pengenalan produk dari bambu

Berikut jepretan hasil kang bengek di bawah ini

UKM Aneka Rotan

Pengrajin rotan dan usaha rumahan ini membawa rejeki sendiri untuk menambah penghasilan keluarga. Usaha ini yang digeluti cukup di kerjakan oleh mang topi bersama istrinya atau apabila banyak order, mang ropi selalu memberikan orde dan kepada masyarakat sekitarnya. Ungkap mang ropi yang sudah 15 tahun menggeluti usaha jni.
Berikut ini produk yang di buat dan di pasarkan di jakarta atau sesuai pesanan.