Minggu, 22 Maret 2015

MUHAMMAD ARIF KIRDIAT, PENDIRI ORGANISASI RELAWAN KAMPUNG, UNTUK MEMPERBAIKI DAN MEMBANGUN JEMBATAN RUSAK

Pertengahan Maret 2015 topibambu bersilaturahmi bersama kang Arif di kediaman di daerah Serang kota Baru, kurang lebih 2 jam, bersamanya bercerita tentang kegiatan dan perkembangan jembatan di silayah Banten dan sekitarnya sampai akhirnya topibambu mecari link di dunia maya http://www.bestyoungindonesia.blogspot.com/2014/02/muhammad-arif-kirdiat-pendiri.html

Kondisi jembatan Sebelum Di Perbaiki


“Lebih baik menyalakan lilin daripada mencari kegelapan”. Prinsip ini disampaikan Muhammad Arif Kirdiat, Koordinator Relawan Kampung. Organisasi masyarakat ini bergerak dalam bidang perbaikan dan pembangunan jembatan rusak serta belum dibangun di Provinsi Banten. Arif, begitu sapaannya, tergugah untuk membangun jembatan sejak 2009 lalu karena melihat kondisi nyata banyaknya sarana tersebut yang rusak dan belum tersedia di Banten. 

Ia pun mengaku miris dengan kejadian putusnya tali jembatan gantung di Kampung Pekarungan, RT 4-RW 2, Kelurahan Kagungan, Kecamatan Kota Serang, Provinsi Banten, yang mengakibatkan puluhan manusia terjatuh ke sungai, akhir tahun 2013. Dan menurut Arif masih banyak kisah memilukan lain yang dialami rakyat Banten lantaran minimnya infrastruktur jembatan. Maka dari itu, ia sangat bersemangat untuk membangun jembatan yang menjadi simbol penghubung antara kemiskinan dan kesejateraan.

Jembatan Sudah Diperbaiki


Siswa Meniukmati Jembatan Yang baik

Arif menjelaskan memang banyak wilayah di Banten yang belum tersedia jembatan dan bila ada pun kondisinya rusak. Akibatnya, setiap hari warga, termasuk pelajar, terpaksa melintasi sungai untuk menuju lokasi tujuan. Bisa dibayangkan risiko kesalamatan mereka yang terancam.

Hal ini yang sering Arif lihat secara langsung ketika mengantar turis dari luar negeri ke sejumlah tempat wisata di Banten. Kebetulan ia mempunyai bisnis travel, Banten Holiday sejak tahun 2005. Menurut Arif, seharusnya masalah itu menjadi tugas pemerintah untuk menyediakan dan memperbaiki jembatan. Namun, ketika masalah ini disampaikan kepada Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Banten, tidak mendapatkan respons yang positif. Di antaranya, mereka terkesan saling lempar tanggung jawab dan terkendala masalah birokratis, seperti pembuatan proposal.

Kenyataan seperti inilah yang pada akhirnya menginspirasi Arif untuk menghimpun relawan yang bersedia membangun jembatan. Dasar upayanya ini sangat jelas, karena banyak warga yang membutuhkan perbaikan jalan dan jembatan. Sementara di sisi lain pemerintah belum mampu memberikan respons yang pasti. Walau sebenarnya, anggaran untuk perbaikan jembatan juga tidak besar sekali. Besarnya cukup jauh bila dibandingkan dengan dana kunjungan kerja pemerintah daerah yang cukup besar. 
Arif menggambarkan, untuk sekali kegiatan kunjungan kerja, pemerintah daerah bisa menghabiskan dana mencapai Rp 100 juta hingga Rp 200 juta. Bila dalam sebulan, ada sepuluh kali kunjungan kerja, maka bisa diperkirakan dana kunjungan kerja yang dikeluarkan totalnya bisa mencapai Rp 1-2 miliar. Maka wajar bila Arif mempertanyakan, kalau pemerintah memiliki dana untuk kunjungan kerja, tapi mengapa untuk membangun jembatan tidak ada ?
  

Namun Arif bersama kawan-kawannya sesama relawan akhirnya berprinsip, “lebih baik menyalakan lilin daripada mencaci kegelapan”. Menandakan, bahwa sebenarnya mereka sudah lelah mendemo pemerintah untuk menyuarakan tuntutan masyarakat. Maka lebih baik mereka langsung bergerak dan memberikan solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Menurut mereka, protes terbaik saat itu adalah dengan cara bekerja nyata mengatasi permasalahan yang ada.

Hal inilah yang menjadi awal lahirnya Relawa Kampung yang beranggotakan dari berbagai latar belakang profesi, seperti wartawan, dokter, dan karyawan swasta lainnya. Mereka lepas dari kepentingan politik atau pencitraan karena murni bergerak atas dasar kemanusiaan.


Relawan Kampung resmi bergerak sejak 2011, dan baru diakta notariskan pada 2013. Namun sebetulnya, kegiatannya sudah ia mulai sejak 2009 dengan memperbaiki jembatan gantung rusak di Desa Sawarna, yang menjadi salah satu objek wisata pantai andalan di selatan Banten.

Penggalangan dana untuk perbaikan jembatan itu dilakukan dengan mengambil momen pada acara salah satu partai di Banten. Namun, pembangunannya tidak dengan melibatkan partai karena berasal dari sumbangan warga yang hadir di acara itu.

Sejak didirikan, sampai awal tahun 2014 sudah ada 14 jembatan yang selesai dibangun oleh Relawan Kampung. Target mereka ada 100 jembatan yang dibangun untuk negeri. Kini, sasaran perbaikan jembatan memang diperluas karena kerusakan serupa juga terjadi di provinsi lain. Selain di Banten, Relawan Kampung juga telah selesai memperbaiki jembatan yang berada di Lampung, Kuningan, Jawa Barat, Magelang, Jawa Tengah, Makassar, Sulawesi Selatan, dan Lombok, Nusa Tenggara Barat.
Perbaikan jembatan di luar Banten ini mendapatkan bantuan dan kerja sama dengan salah satu ritel minimarket di Indonesia. Selain ritel, Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI Angkatan Darat juga ikut terlibat dalam membangun jembatan. Ada pula perbaikan jembatan yang dananya berasal dari para siswa SMA swasta di Jakarta.

Anehnya, donatur yang menyumbang perbaikan jembatan tidak ada yang berasal dari Banten. Hal ini karena ada ketentuan yang menyatakan dana corporate social responsibility (CSR) perusahaan harus melalui pemerintah kabupaten atau pemerintah kota setempat.




Proses kerja Relawan Kampung dalam membangun jembatan sifatnya reaktif. Ketika ada jembatan rusak, mereka akan mem-posting foto-fotonya di media sosial Facebook. Dari sanalah banyak warga maupun donatur yang tergerak untuk memberikan sumbangannya. Arif mencontohkan pembangunan jembatan pertama Relawan Kampung berada di Dukuh Handap, Kecamatan Cimanggu, Pandeglang. Setelah muncul di media sosial, ada seorang teman dari Singapura yang bersedia menyumbang hingga puluhan juta rupiah.

Selain itu, sumbangan juga mengalir dari sejumlah Negara, seperti Qatar dan Abu Dhabi. Total dana yang terkumpul pada waktu itu mencapai Rp 95 juta. Sementara, dana untuk perbaikan maupun renovasi jembatan berkisar antara Rp 75 juta hingga Rp 180 juta, tergantung lebar sungai dan panjang jembatan. Dana ini tentu saja lebih hemat dibandingkan pembangunan jembatan gantung yang dianggarkan pemerintah yang rata-rata mencapai Rp 350 juta.

Selama menjalankan kegiatannya, Arif bersama tim Relawan Kampung tentu saja kerap menemui sejumlah kendala di lapangan. Seperti susahnya menembus medan yang berat. Misalnya, mobil tidak bisa masuk ke area pembangunan jembatan. Akibatnya, pengangkutan material pembangunan jembatan dilakukan warga dengan cara dipikul dengan jarak yang cukup jauh. Kendala lainnya, pemerintah daerah setempat tidak mau jembatan tersebut dibangun. Namun karena warga mendesak maka pembangunan jembatan tetap berlanjut.

Menurut Arif, peran jembatan itu memang sangat penting bagi masyarakat di suatu daerah. Jembatan bisa menjadi simbol penghubung antara kemiskinan dan kekayaan atau kesejahteraan. Untuk mengembangkan sistem ekonomi di daerah, pemerintah sebetulnya tidak perlu mengeluarkan teori yang panjang lebar dan tidak dimengerti warga. Karena intinya sangat sederhana, yakni dengan cukup membangun jalan dan jembatan, yang akan bisa meningkatkan ekonomi warga. Jadi bisa dikatakan, jembatan akan ‘menjembatani’ warga agar lepas dari kemiskinan. Pasalnya, hasil bumi dari warga di pedesaan bisa secara mudah dibawa ke kota. Bila suatu desa bisa berkembang dengan pesat, maka warga tidak akan melakukan urbanisasi ke kota. Hal ini karena masyarakat sudah tercukup kebutuhannya di daerah. 


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar