Jumat, 05 Agustus 2011

Dari Media Massa, Sampai Museum Rekor Indonesia

Belum genap satu tahun perjuangan kawan-kawan di Komunitas Topi Bambu dalam melestarikan kerajinan asli dari Kabupaten Tangerang yaitu Topi Bambu, sebuah kerajinan yang sempat menjadi produk membanggakan di zaman kolonial karena berhasil meraih hati pasar Eropa akhirnya mendapat banyak apresiasi.
Apresiasi yang dimaksud adalah adanya liputan media massa yang menyajikan berita tentang Topi Bambu mulai dari cara pembuatan, sejarah hingga kehidupan para pengrajin yang masih belum lepas dari jeratan pola pikir tradisional dalam memproduksi dan memasarkan kerajinan tersebut. Lebih miris, regenerasi para pengrajin kian meredup karena sepinya minat kaum muda di lingkungan pengrajin yang enggan belajar lebih jauh menganyam topi kebanggan.
Pak Rahman dan Istri, generasi pengrajin termuda yang masih ada
 Hadirnya Komunitas Topi Bambu yang peduli terhadap kerajinan membanggakan ini patut diacungi jempol karena setidaknya telah bertindak nyata dalam memperkenalkan Topi Bambu kebanggan ke khalayak ramai melalui pameran ke pameran hingga melalui media massa. Tercatat televisi swasta Trans 7, portal berita Detik.com dan televisi lokal B-Channel telah meliput apa yang di perjuangkan kawan-kawan di Komunitas Topi Bambu.
Wawancara dengan B-Channel
Kerajinan Topi Bambu di Acara Laptop Si Unyil Trans 7
Tak sampai disitu, semangat menggebu di balut optimisme kawan-kawan akhirnya terluncur sebuah ide untuk membuat Topi Bambu raksasa. Ya, akhirnya tercipta Topi Bambu berdiameter garis 2 Meter. Bukan tanpa maksud kawan-kawan yang di pelopori 2 sesepuh yaitu Agus Hasanudin dan M. Arif Widarto selaku pendiri membuat Topi raksasa. Perjuangan mereka dalam meningkatkan pamor Topi Bambu akhirnya mencapai puncak meski komunitas ini baru seumur jagung. Topi Bambu raksasa mendapat sambutan di Museum Rekor Indonesia (MURI) atas apresiasi Kementrian Budaya dan Pariwisata (Menbudpar) untuk mendaftarkan Topi Bambu Raksasa agar tercatat dalam MURI sebagai Topi Bambu Terbesar yang pernah di buat.
Topi Bambu Raksasa
Pak Dadat, selaku penggagas sekaligus perwakilan dari Pemkab Tangerang
Tapi yang paling penting, pahlawan utama dalam serangkaian hal membanggakan ini adalah para pengrajin Topi Bambu. Jelas tanpa mereka mungkin hal ini hanya menjadi imajinasi fiktif yang tak bisa di lestarikan dan di ceritakan kepada anak cucu.
Sang Pahlawan Yang Semakin Renta
Kini bagaimana dengan anda? Pedulikah dengan kerajinan Nusantara? Mari bergabung di Komunitas Online ++ Topi Bambu di www.topibambu.com. Atau ingin peduli lebih nyata dengan membeli langsung kerajinan Topi Bambu seperti di bawah ini yang harganya tentu lebih murah dari kerajinan Dunia Barat?
Remake Topi Bambu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar