Topi Bambu Mendapat Kehormatan Di Pembukaan Musrenbang Kabupaten Tangerang

Senin 1 April 2013 lalu, Komunitas Topibambu yang kini bekerjasama dengan Dinas Koperasi Kabupaten Tangerang mendapat kehormatan untuk turut serta dalam memamerkan Kerajinan Khas Kabupaten Tangerang yaitu Topi Bambu di sela-sela acara Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) Kabupaten Tangerang tahun 2014 yang dilaksanan di Aula Gedung Serba Guna Pusat Pemerintahan Tigaraksa Kabupaten Tangerang.

Kerajinan Indonesia Sebagai Warisan Budaya

TopiBambu mendapat kesempatan wawancara langsung dengan Bapak Bramantyo W sebagai President Director (PT. MEDIATAMA BINAKREASI) penyelengara Pameran KRIDAYA 2011 bekerjasama dengan Yayasan Sulam Indonesia diketuai langsung oleh Ibu Triesna Jero Wacik dan mendapat dukungan penuh dari Kementrian Kebudayaan ddan Parawisata RI, ujar bapak saat ini berumur 71 tahun yang sudah menjadi penyelengaraan pameran sejak tahun 1980.

Topi Bambu Tangerang Pernah Merajai Paris

Industri kecil turut tumbuh di sepanjang Jalan Raya Pos tempo doeloe. Salah satunya adalah industri topi bambu dan pandan buatan Tangerang yang merajai dunia serta menjadi mode di Paris, Perancis!

Rekor Muri untuk Topi Bambu Raksasa

Komunitas TopiBambu bersama pengrajin topi bambu Kabupaten Tangerang membuat topi bambu raksasa. Topi bambu raksasa tersebut berhasil memcahkan Rekor Muri sebagai topi bambu terbesar yang pernah dibuat.

Bupati Tangerang dan Wakil bupati Tangerang Berpose dengan Topi Bambu Raksasa

Topi bambu raksasa ikut memeriahkan HUT ke-66 Kemerdekaan RI di Tigaraksa. Pada kesempatan itu Bupati dan Wakil Bupati Tangerang sempat berfoto dengan topi bambu raksasa.

Jumat, 05 September 2014

Jangan Lupakan Topi Bambu

TOPI bambu bikinan Tangerang, Banten, pernah dikenal di Eropa pada masa kolonial. Kini kondisi perajin topi memprihatinkan. Komunitas Topi Bambu gigih membangkitkan kembali kejayaan topi bambu. 


Topi bambu pernah menjadi produk primadona di Kabupaten Tangerang. Tengoklah dekat-dekat lambang daerah Tangerang, maka segera tampak gambar topi bambu. Pada masa kolonial sekitar era 1910, topi bambu mencapai masa kejayaannya. Topi bambu dari Tangerang pernah merajai pasaran Eropa. Di kota pusat mode dunia, seperti Paris, topi bambu dipakai oleh gadis-gadis bangsawan sebagai bagian dari mode pada zamannya. Seiring berjalannya waktu, topi bambu makin tersisih. Sempat diekspor ke Amerika Serikat dan Eropa melalui Pelabuhan Tanjung Priok, kejayaan ekspor topi bambu berakhir sekitar 1930.
Tak rela menyaksikan keruntuhan pamor topi bambu, Komunitas Topi Bambu menularkan kecintaannya pada topi bambu kepada lebih banyak orang. Di galeri mungil berukuran 5 meter x 4 meter di Jalan Raya Serang, Cikupa, Tangerang, anggota komunitas kerap berkumpul. Beragam jenis topi bambu dipajang di setiap sudut ruangan. Saepul Milah menunjukkan contoh topi pesanan dari Perancis yang sederhana, tetapi elegan.
Ada pula topi bambu yang mirip dengan topi tentara yang dipesan untuk keperluan peragaan busana di Jepang. Topi bambu untuk pasar Jepang ini merupakan permintaan pertama yang datang dari luar negeri setelah komunitas berdiri pada 2010. ”Sempat ada kendala bahasa. Namun, setelah lima kali kirim gambar dan beberapa kali koreksi ulang, konsumen Jepang puas,” kata Saepul.
Konsumen dari Perancis dan Jepang menyukai kehalusan helai-helai bambu yang sudah ditipiskan sebagai bahan baku topi bambu. Saking kagumnya, sempat terlontar ketidakpercayaan bahwa helaian bambu tersebut benar-benar diperhalus dengan tangan, tanpa mesin.
Anggota komunitas lainnya, Agus Hasanudin, menunjukkan surat elektronik (e-mail) pesanan topi bambu yang datang dari Belanda. Tak lupa, si pemesan melampirkan foto model topi bambu yang diinginkan. ”Perajin masih konvensional. Membuat sesuatu berdasarkan sesuatu yang sudah ada. Kini, mereka harus beradaptasi. Harus belajar membuat pola dan model berbeda,” kata Agus.


Jembatan perajin-pasar
Dalam relasi dengan para perajin, anggota Komunitas Topi Bambu menjalani peran sebagai pembangun jembatan antara perajin dan konsumen. Produksi dari para perajin yang biasanya hanya dijual ke pasar tradisional mulai diikutsertakan pada pameran kerajinan di tingkat lokal maupun nasional.
Lewat blog komunitas topibambu.com, karya perajin diperkenalkan kepada masyarakat luas. Anggota komunitas pun rajin melancong ke desa-desa di Tangerang untuk membangun relasi dengan perajin. Hasil perjumpaan itu antara lain ditulis dan diunggah di media sosial.
Komunitas Topi Bambu juga mendorong perajin untuk peduli pada kontrol kualitas, bekerja keras, dan mulai beradaptasi dengan permintaan pasar dari luar negeri. Mereka juga menjembatani kendala bahasa ketika permintaan berdatangan dari luar negeri.
Agar anak-anak muda tertarik pada pelestarian topi bambu, pelatihan menganyam bambu di sekolah-sekolah di pusat kerajinan bambu pun digalakkan. Para mahasiswa turut terlibat dalam beragam kegiatan untuk menumbuhkan kecintaan pada topi bambu. Dede Rosadi, seorang mahasiswa, baru mengenal tentang topi bambu dari Himpunan Mahasiswa Tangerang Barat. Dede kemudian bergabung dengan komunitas dan ikut membangun jembatan antara perajin dan perusahaan.
Banyak perusahaan lalu tertarik memberikan bantuan dana bagi pengembangan kerajinan topi bambu. Ada yang membantu memperbaiki bengkel kerja para perajin. Perusahaan lainnya membantu penanaman bambu tali sebagai bahan baku utama topi bambu.
Komunitas Topi Bambu dirintis oleh lima orang yang seluruhnya adalah penulis blog. Sebelum fokus pada topi bambu, Agus lebih banyak menulis artikel tentang wisata atau makanan di blog pribadinya, sementara Saepul suka menulis jurnal. Dari hobi menulis di blog inilah mereka berjumpa dengan para perajin topi bambu yang umumnya tinggal di Tangerang, seperti Pasar Kemis, Jambe, Caringin, Cibugel, atau Cisoka.
”Kami blusukan lalu wawancara dengan para perajin yang sudah renta. Kondisi mereka memprihatinkan. Susah bikinnya, tetapi murah dan dipasarkan cuma di sekitar wilayah situ,” ujar Saepul.
Kebanyakan perajin membuat topi ilaban atau topi dasaran yang belum jadi. Mereka menganyam topi ilaban lalu dijual murah kepada pengepul. Mayoritas perajin hanya membuat topi pramuka yang dihargai sangat murah Rp 50.000 per kodi. Topi pramuka ini dipasarkan ke Aceh, Palembang, Lampung, Jawa, Kalimantan, dan Papua.
Seiring keterlibatan anggota Komunitas Topi Bambu untuk memasarkan hasil karya perajin, harga topi pramuka kini bisa meningkat menjadi dua kali lipat. ”Kami puas. Harga topi bambu bisa naik. Perajin bisa memasarkan sendiri topi buatannya,” kata Agus.
Topi raksasa
Agar pasar kembali melirik topi bambu, Komunitas Topi Bambu, antara lain, mempromosikannya dengan membuat topi raksasa berdiameter 2 meter pada 2011. Topi raksasa ini dipamerkan di hadapan menteri sebelum kemudian mendapat rekor Muri pada 2012.
Setelah aktif terlibat dalam beragam pameran, pesanan dari luar negeri mulai pada 2013. Selain terus memproduksi topi pramuka, perajin kemudian berlatih memenuhi pesanan khusus topi bambu dari luar negeri. Mereka lantas membuat topi koboi topi country, topi pantai, dan laken.
Saat ini masih tersisa sekitar 200 perajin topi bambu di Tangerang. Untuk membuat topi dasaran yang masih separuh jadi, perajin membutuhkan waktu pengerjaan selama satu pekan. Beragam produk turunan berbahan dasar bambu, seperti tas dan aksesori, juga mulai diproduksi.
Agus mengungkapkan, sempat ada permintaan satu kontainer topi bambu, tetapi sulit dipenuhi oleh para perajin. ”Perajin belum siap. Kalau perajin habis, topi bambu hanya tinggal logo saja. Jika banyak permintaan, perajin mau bangkit,” ujarnya.
”Kami adalah helpfull community. Kami tidak mau melupakan sejarah kejayaan topi bambu,” tambah Agus. (MAWAR KUSUMA)
  Sumber Kompas  31 Agustus 2014, link dibawah ini

Senin, 01 September 2014

Pelatihan Kewirausahaan Kreasi Anyaman Bambu

Peserta Lomba Menganyam


Anyaman topi bambu merupakan primadona dan menjadi ikon pemerintah di Kabupaten Tangerang, termasuk Desa Bojongloa Kecamatan Cisoka dan sekitarnya. Sejak lama, hampir seluruh masyarakat di Desa Bojongloa menjadi pengayam topi pramuka dari bambu. Namun anyaman yang dibuat hanya setengah jadi yang biasa di sebut oleh masyarakat adalah loso atau tudung. Sangat disayangkan perhatian pemerintah terhadap para penganyam topi bambu ini sangat minim. Harga jual yang rendah menjadikan keberadaan pengayam topi bambu semakin berkurang.

Sesuai dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu fungsi transformasi ilmu pengetahuan, pengembangan ilmu melalui kegiatan penelitian dan fungsi aplikasi ilmu pengetahuan didalam kehidupan masyarakat, maka Lembaga Pusat Pemberdayaan Masyarakat (PPM)  UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengadakan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebagai bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat dimana Kami dari KKN Garuda’11 mendapatkan tempat di Desa Bojongloa, Kecamatan Cisoka, Kabupaten Tangerang, Banten. Beruntung, dalam menjalankan salah satu program kerja kami dapat bekerja sama dengan Komunitas Topi Bambu. Komunitas Topi Bambu merupakan sebuah komunitas yang bertujuan untuk mengenalkan kembali kerajinan topi bambu khas Tangerang.
Peserta Bersama PT. Telkom Support Doorprize

Peserta Kreasi bambu

Agus Hasanudin selaku Ketua Komunitas Topi Bambu atau biasa disapa kang agus menjelaskan bahwa kegiatan-kegiatan yang dilakukan komunitas Topi Bambu lebih kepada kegiatan membantu UKM mempromosikan produk anyaman topi bambu secara online. Topi bambu yang selama ini menjadi primadona di Kabupaten Tangerang ini tidak dapat membawa para pengayam bambu, di Desa Bojongloa khususnya, untuk dapat meningkatkan perekonomiannya. Masyarakat terlalu tertutup terhadap peluang besar bisnis dari anyaman bambu ini. 
Apabila masyarakat mau dan mampu mengkreasikan anyaman bambu ini maka tidak menutup kemungkinan produk anyaman bambu dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu kami dari KKN Garuda’11 mengadakan kegiatan Pelatihan Kewirausahaan Kreasi Anyaman Bambu dengan Komunitas Topi Bambu dalam mengkreasikan bambu agar menjadi produk lain. Antusias warga ternyata sangat besar melebihi ekspektasi kami, kantor balai desa Bojongloa yang kami jadikan tempat acara pelatihan di penuhi oleh penganyam bambu yang memiliki semangat tinggi untuk belajar membuat kreasi anyaman bambu.

Kami harap semangat dan antusias para penganyam topi bambu dapat diimbangi dengan perhatian dari Pemerintah Kabupaten Tangerang untuk mengembangkan dan mengangkat topi bambu ke pasar yang lebih luas. Selain itu kami berharap kedepannya Komunitas Topi Bambu dapat terus memperkenalkan produk ayaman topi bambu yang ada di kabupaten Tangerang ke seluruh Indonesia bahkan hingga ke seluruh dunia.
Kang Agush Bersma Peserta Pemenang lomba

Selasa, 19 Agustus 2014

Bambu Terasing di Negeri Sendiri

wow.... tepatnya  9 September 2012 hasil wawancara langsung kangagush dengan reporter kompas , dan ada link di http://regional.kompas.com/read/2012/09/09/03552347/Bambu.Terasing.di.Negeri.Sendiri
Bambu sangat dekat dengan kehidupan rakyat Indonesia. Ada 156 jenis bambu yang tumbuh di negeri ini. Ada sekitar 1.500 alat kerajinan terbuat dari bambu yang digunakan rakyat. Toh, zaman berubah. Masyarakat modern di negeri bambu ini justru semakin jauh dari bambu.
Suara kolecer atau mainan serupa baling-baling dari bambu dan kertas itu riuh terdengar di Assembly Hall Jakarta Convention Center, Minggu (2/9) siang. Mainan itu dibagikan kepada seratusan penonton yang menyaksikan pertunjukan Komunitas Hong, sebuah komunitas yang didirikan untuk melestarikan mainan tradisional.
Beberapa jenis mainan yang dipraktikkan dan dipamerkan dalam acara ini hanyalah sebagian kecil dari ratusan mainan tradisional di Indonesia.
”Dari semua permainan yang menggunakan alat, 60-80 persen di antaranya adalah mainan yang terbuat dari bambu,” kata Zaini Alif, pendiri Komunitas Hong.
Minggu siang itu, anak-anak dari komunitas ini tampil dalam acara Festival Bambu Nusantara Ke-6 yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta Republic of Entertainment, penggagas berbagai festival dari Bandung.
Anak-anak dari Komunitas Hong mempraktikkan beberapa permainan dengan alat dari bambu, digabungkan dengan permainan-permainan lainnya. Ada anak-anak yang bermain egrang dari bambu, ada yang bermain bedil (pistol) jepret dan sumpit. Juga wayang, gasing, dan mobil-mobilan. Semuanya dari bambu.
Namun, bambu yang digunakan beragam. Bambu tali yang tingkat kelenturannya tinggi dipakai untuk membuat anyaman wayang bambu dan menjadi bagian dari bedil jepret. Sumpit dibuat dari bambu buluh, sedangkan egrang terbuat dari bambu yang kuat, seperti bambu hijau atau bambu hitam.
Penopang penghasilan
Seberapa jauh bambu menjadi gantungan kehidupan sebuah masyarakat? Mari kita tengok warga di Kampung Kabandungan, Desa Sindangasih, Kecamatan Karangtengah, Cianjur, Jawa Barat. Bambu di sini menjadi penopang penghasilan bagi ratusan penduduknya. Bisa dikatakan hampir seluruh penduduk di kampung ini berprofesi sebagai perajin sangkar burung yang memanfaatkan materi bambu.
Di luar kampung ini, bambu juga menjadi tumpuan warga Cianjur. Lihatlah peralatan rumah tangga yang mereka gunakan, cendera mata yang dijajakan. Semua dari bambu. Anyaman bambu disulap menjadi tampah, nampan, tudung saji, tempat tisu, lampu duduk, dan lainnya.


Beranjak ke Kabupaten Tangerang, Banten, kerajinan bambu berupa topi bambu sempat menjadi primadona. Sejak 1813, topi bambu dari Tangerang bahkan telah merajai pasar ekspor di Perancis dan Amerika. Permintaan topi lebar dari bambu sampai saat ini masih datang dari Jepang dan Australia.
Ketua Komunitas Topi Bambu Tangerang Agus Hasanudin mengatakan, lebih dari 80 persen masyarakat pedesaan di Tangerang bisa menganyam bambu. Seiring dengan perubahan mode topi bambu internasional, kini topi bambu lebih banyak dimanfaatkan sebagai topi pramuka dengan permintaan 30.000 kodi per bulan dari total 20 perajin topi bambu.

Sayangnya, meski Indonesia punya banyak ragam bambu, pemanfaatan bambu masih sangat terbatas. Mukoddas Syuhada dari Banten Creative Community, misalnya, mengatakan, bambu di beberapa daerah di Banten hanya digunakan sebagai pagar rumah dan bebegig (orang-orangan) di sawah.
Hal serupa dikatakan Jatnika Nanggamihardja, sosok yang lebih dari 20 tahun berkecimpung di dunia bambu, salah satunya sebagai eksportir rumah bambu. Menurut Jatnika, meski Indonesia sangat kaya akan jenis bambu, masyarakat negara ini masih kalah bersaing dengan China, India, dan Jepang dalam memanfaatkannya.
”Ini karena masyarakat Indonesia masih mengandalkan keahlian tradisional dalam mengolah bambu sehingga kalah kualitas dibandingkan negara lain,” kata Jatnika.
Pandangan salah
Bahwa bambu menjadi budaya bangsa Indonesia terlihat dari bagaimana cara memanen, mengawetkan, dan mengolahnya, yang diwarisi secara turun-temurun dari nenek moyang kita.
Jatnika, yang juga menjadi pelestari bambu dengan menanam pohon ini di bantaran Sungai Ciliwung, Cisadane, Ciluwer, serta di tepian Sungai Cimande, telah mendata 1.511 produk kerajinan yang dibuat dari bambu.
Namun, karena bambu dan produk bambu cenderung masih dianggap murahan, kampungan, dan identik dengan kemiskinan oleh masyarakat kita, tak heran jika di zaman modern ini kita semakin terasing dengan bambu.
Dari total 156 jenis bambu di Indonesia, sebagian di antaranya telah punah atau terancam punah. Pohon bambu euleul yang di dalam tiap ruasnya terdapat genangan air dan diyakini mampu mengobati penyakit, misalnya, sudah sulit dijumpai.
Beberapa jenis bambu, seperti bambu merambat, bambu berbuah, hingga bambu yang diselimuti bedak putih, telah punah. Tanaman bambu hanya dibiarkan tumbuh dengan liar. Tak ada yang secara sengaja menanamnya untuk skala industri. Akibatnya, produk kerajinan bambu sulit diproduksi dan dipasarkan secara berkelanjutan.
Padahal, minat masyarakat internasional terhadap eksotisme produk bambu cukup tinggi. Jatnika, contohnya, sudah mengekspor rumah bambu ke Malaysia, Jerman, hingga Timur Tengah. Dari tahun 2000 hingga sekarang, Jatnika telah membangun lebih dari 3.500 rumah bambu.
Selain bernilai ekonomis, bambu juga memiliki banyak kegunaan untuk lingkungan di sekitarnya. Bambu mampu menyimpan 90 persen air dari lingkungannya, sedangkan tanaman lain hanya menyimpan air maksimal 45 persen. Tiap batang bambu bisa menghasilkan 1,2 kilogram oksigen yang cukup memenuhi kebutuhan dua orang per 24 jam.
Dari bambu, nenek moyang juga mengajarkan makna hidup melalui falsafah bambu, seperti leuleus jeujeur liat tali. Falsafah dalam bahasa Sunda yang menggambarkan kelenturan bambu dan alotnya tali yang terbuat dari bambu ini bermakna bahwa dalam menjalani hidup, diperlukan ketekunan, kesetiaan, dan kelenturan.
Begitu lekatnya bambu dengan kehidupan dan budaya bangsa Indonesia, hal itu membuat Jatnika pun berpendapat, ”Kalau bambu tidak ada, budaya bangsa hilang. Artinya, kekuatan negara juga hilang.”
Bambu pun sudah memberikan isyarat. Ini sebuah tanda zaman.
Reporter : Mawar Kusuma & Yulia Sapthiani

Kamis, 14 Agustus 2014

Komunitas Topibambu bersama KKN UIN Jakarta

Komunitas topibambu merupakan sosial community dengan visi helpfull community, dimana komunitas ini dapat membantu UKM yang belum memasarkan produknya secara online dan sebagai media jurnalis.
Keberadaan komunitas dapat memberikan baik konsep, ide dan pemberdayaan untuk membuat ekonomi kreatif di lingkungan sekitar
Akhirny topibambu pun dapat bekerjasama dalam -Kegiatan Pelatihan Anyaman Souvenir Bambu bersama UIN syarif Hidayatullah. Ini sedikit uraian kegiatan bersama dengan teman teman mahasiswa/i sebagai berikut :
Sebagai bentuk perwujudan dari Tri Dharma pendidikan, Lembaga Pusat Pemberdayaan Masyarakat (PPM) UIN Syarif Hidayatullah mengadakan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) dengan mengirimkan delegasi mahasiswa ke berbagai desa di sekitar Jabodetabek.
Tujuan utama KKN, selain untuk melatih mahasiswa melaksanakan pendidikan selain di kelas, tapi juga untuk memberdayakan keilmuan mahasiswa untuk memberdayakan masyarakat di lokasi KKN.
Kebetulan, kelompok KKN Sejati yang beranggotakan 14 mahasiswa dari berbagai fakultas; mendapatkan lokasi di Desa Caringin, Cisoka, Kabupaten Tangerang, Banten. Di sana, saya dan kawan-kawan KKN Sejati melihat potensi kemampuan masyarakat dalam menganyam bambu yang sangat besar.
Peserta KKN dan Masyarakat Pelatihan Anyaman Bambu bersama Komunitas Topibambu

Namun, saya dan kawan-kawan KKN Sejati merasa masih kurangnya kesadaran masyarakat bahwa menganyam bambu bisa dijadikan komoditi utama bisnis; khususnya di kecamatan Cisoka.
Kebiasaan pengerajin anyaman bambu di Desa Caringin adalah membuat anyaman topi pramuka dan topi caping petani. Hal ini dikarenakan desain bentuk kerajinan yang dibuat cenderung tidak berkembang. Padahal, bila kreatifitas ini bisa terus dikembangkan, maka tidak tertutup kemungkinan potensi pasar bambu bisa semakin luas.
Oleh karena itu, saya dan teman-teman KKN Sejati mengajak kerja sama dengan komunitas Topi Bambu. Karena komunitas ini sudah sangat banyak menolong masyarakat menengah ke bawah yang bekerja sebagai pengrajin anyaman bambu.
Harapan kami, kerja dengan Desa Caringin bersama KKN Sejati yang di sokong pula oleh komunitas Topi Bambu, bisa terus berjalan dengan baik, dan bisa terus mengembangkan kreatifitas bambu yang ada di Kabupaten Tangerang.

Ketua KKN UIN Jakarta dengan Kang Agush Topibambu

-Gerhana Ika Saraswati, Semester 6, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis-demikian biasa di sapa gerhana saat pertemuan dilokasi pengrajin di tigaraksa bersama kangagus "ketua komunitas"
Pertemuan dengan Mahasiswa /i KKN UIN Jakarta

Minggu, 29 Juni 2014

Pasar Ramadhan Anak Yatim

Cikupa.1 Ramadhan tepatnya 29 Juni 2014 topibambu sempat bertemu dengan ketua pelaksana ust abdul latif berbicara tentang konsep pasar ramadhan ini. Adapun tujuan  di buat ini sebagai wadah masyarakat yang ingin membeli menu untuk berbuka puasa. Acara ini pun di support dari kelurahan sukamulya dan kecamatan cikupa.

Untuk ssnarak acara ini terlibat langsung dari Himpunan Mahasiswa Tangerang Barat atau himatangbar dengan komandan sdr lukman . Himatangbar pun ikut serta berjualan di pasar ramadhan ini dengan menjual baju layakbpakai yang hasilnya akan di sumbangkan di yayasan anak yatim ini yaitu kufallul yatama dengan pembina KH.Bahriudin dan ketua yayasan ini H.Arifin .
Ini liputan hari pertama dengan aneka menu buka puasa dll.